Dua Kapal Induk AS Siap Menghadapi Iran di Timur Tengah

WASHINGTON – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas setelah Pentagon memerintahkan kapal induk kedua untuk dikerahkan ke Timur Tengah, langkah yang dianggap sebagai bentuk tekanan militer Washington di tengah negosiasi nuklir yang belum menunjukkan hasil.

Presiden Donald Trump memperingatkan, “Jika Iran tidak mencapai kesepakatan nuklir yang memuaskan, mereka akan menghadapi konsekuensi yang sangat traumatis.” Pernyataan ini disampaikan Kamis (12/02/2026) waktu setempat, menegaskan bahwa opsi militer tetap berada di meja.

Akhir Januari lalu, Trump telah menempatkan USS Abraham Lincoln beserta kapal pengiringnya di Teluk Persia. Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya ancaman terhadap Iran terkait tindakan keras pemerintahnya terhadap demonstran anti-pemerintah. “Kapal-kapal ini masih berada di wilayah tersebut untuk memastikan kami siap bertindak bila diperlukan,” kata seorang pejabat Pentagon yang tidak ingin disebut namanya.

Kini, menurut laporan AFP pada Jumat (13/02/2026), USS Gerald R. Ford beserta kapal pengiringnya akan bergabung dengan gugus tempur tersebut setelah Pentagon memerintahkan pergerakannya dari Laut Karibia. Media seperti Wall Street Journal, New York Times, dan CBS News melaporkan persiapan pengerahan kapal induk ini mengutip sumber anonim dari Pentagon.

“USS Gerald R. Ford awalnya dikerahkan pada Juni dan segera diarahkan ke Karibia sebagai bagian dari tekanan terhadap Venezuela,” tulis New York Times. Beberapa pesawat tempur dari kapal induk tersebut terlibat dalam operasi pada 3 Januari di Caracas, yang menewaskan sejumlah target dan menyebabkan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, menurut laporan yang sama.

Sampai saat ini, belum ada kepastian berapa lama USS Ford atau USS Lincoln akan bertahan di Timur Tengah. Sejumlah analis menilai bahwa pengerahan kapal induk kedua ini merupakan sinyal tegas bagi Tehran bahwa Washington siap menggunakan kekuatan penuh.

Seorang pejabat Pentagon menyatakan, “Ini bukan hanya soal negosiasi nuklir. Kami menegaskan dominasi militer AS di kawasan dan menunjukkan kesiapan menghadapi setiap ancaman.” []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com