BEIRUT – Ketegangan di kawasan perbatasan Lebanon kembali meningkat setelah serangan Israel pada Jumat (20/02/2026) menewaskan sedikitnya 12 orang. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang telah diberlakukan sejak November 2024 antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (21/02/2026), Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyampaikan kecaman keras terhadap serangan tersebut. Dalam pernyataannya, Aoun menyebut aksi militer Israel sebagai “tindakan agresi terang-terangan yang bertujuan untuk menggagalkan upaya diplomatik” oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain yang berusaha menjaga stabilitas kawasan.
Serangan pada Jumat (20/02/2026) itu menghantam wilayah Lebanon selatan dan timur. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 12 orang tewas, dengan 10 korban berada di wilayah timur negara tersebut.
Militer Israel menyatakan telah menyerang sejumlah militan dari unit rudal Hizbullah di tiga pusat komando berbeda di daerah Baalbek. Hizbullah kemudian mengonfirmasi bahwa seorang komandannya termasuk di antara korban tewas dalam serangan tersebut.
Merespons situasi itu, anggota parlemen Hizbullah, Rami Abu Hamdan, mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil langkah tegas. Ia menyerukan agar pemerintah “menangguhkan pertemuan komite sampai musuh menghentikan serangannya”.
Komite multinasional yang dimaksud merupakan badan pengawas gencatan senjata yang mulai diterapkan pada November 2024. Washington menjadi salah satu dari lima anggota komite tersebut, dan pertemuan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada pekan depan.
Israel dalam beberapa bulan terakhir berulang kali melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon dengan dalih menargetkan Hizbullah, dan dalam sejumlah kesempatan juga menyasar sekutu kelompok tersebut, termasuk Hamas.
Meski melemah akibat konflik sebelumnya, Hizbullah tetap memiliki pengaruh politik signifikan di Lebanon dan diwakili di parlemen. Pemerintah Lebanon pada tahun lalu menyatakan komitmennya untuk melucuti senjata kelompok tersebut. Bahkan, militer Lebanon bulan lalu mengumumkan telah menyelesaikan fase pertama rencana pelucutan senjata di wilayah dekat perbatasan Israel.
Namun Israel menilai langkah itu belum memadai dan menuduh Hizbullah kembali mempersenjatai diri. Serangan pada Jumat (20/02/2026) ini pun memperlihatkan bahwa situasi keamanan di kawasan tersebut masih jauh dari stabil, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan