WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengejutkan dunia dengan pernyataan bahwa dirinya berencana melakukan kunjungan ke Venezuela, sebuah langkah yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Namun, Trump belum memberikan detail kapan lawatan tersebut akan berlangsung serta agenda resmi di Caracas.
Dalam jumpa pers singkat di Gedung Putih, Jumat (13/02/2026), Trump menegaskan bahwa kunjungan itu akan terjadi meski tanggalnya belum diputuskan. Pernyataan itu muncul di tengah hubungan yang menurut Trump saat ini tengah menghangat antara Washington dan pemerintah sementara Venezuela. “Saya akan pergi ke Venezuela. Kita masih menentukan jadwalnya,” ujar Trump kepada wartawan tanpa merinci lebih jauh tujuan atau lamanya kunjungan.
Hal ini terjadi menyusul operasi militer besar-besaran yang dilancarkan AS awal Januari lalu untuk menangkap mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang kini berada dalam tahanan federal di New York atas tuduhan kriminal serius. Pemerintahan sementara dipimpin oleh Delcy Rodríguez yang didukung oleh Washington.
Menurut Trump, hubungan antara AS dan pemerintahan sementara Venezuela berjalan dengan sangat baik, terutama dalam kerjasama sektor energi. “Hubungan yang kita miliki sekarang sangat kuat, terutama karena kita bekerja erat dalam hal minyak,” tambah Trump.
Selain itu, Trump juga menyebut bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar asal AS kini aktif di Venezuela dan memproduksi minyak yang kemudian diolah dan diperdagangkan di pasar global. Menurutnya, kerja sama itu akan menguntungkan kedua negara.
Namun, kunjungan Trump ini belum mendapatkan konfirmasi dari pihak Caracas, dan menimbulkan tanda tanya besar di panggung internasional. Sementara itu, pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan ia sah memimpin negara tersebut meskipun situasi politik dalam negeri masih tegang dan banyak pihak mempertanyakan legitimasi pemerintahan barunya.
Sejumlah analis menilai bahwa rencana kunjungan ini adalah bagian dari strategi geopolitik Trump untuk mengukuhkan pengaruh Washington di Amerika Latin, terutama dalam sektor minyak, sekaligus menunjukkan kemenangan politik dalam konflik yang baru terjadi.[]
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan