TEHERAN — Ketegangan kawasan kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam IRGC memulai rangkaian latihan militer di perairan strategis Selat Hormuz. Manuver tersebut berlangsung pada Senin (16/02/2026) di tengah persiapan putaran perundingan baru antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa sehari setelahnya.
Media pemerintah Iran melaporkan latihan ini diarahkan untuk memperkuat kesiapan menghadapi kemungkinan ancaman keamanan maupun militer di jalur laut yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Langkah tersebut muncul setelah Washington mengirimkan kekuatan angkatan laut dalam jumlah besar ke kawasan Teluk.
Latihan dipantau langsung oleh komandan Garda, Mohammad Pakpour, dengan fokus pada peningkatan kemampuan respons cepat terhadap potensi konflik. Garda Revolusi sendiri dikenal sebagai unsur ideologis utama dalam struktur militer Iran yang kerap berada di garis depan dinamika keamanan regional. “Latihan ini dirancang untuk memastikan pasukan mampu merespons setiap ancaman secara cepat dan efektif,” demikian pernyataan yang disampaikan melalui media pemerintah.
Manuver militer berlangsung beriringan dengan upaya diplomasi kedua negara yang selama lebih dari empat dekade berada dalam hubungan bermusuhan. Dialog sebelumnya sempat digelar pada 6 Februari melalui mediasi Oman, menjadi kontak pertama sejak proses diplomatik terhenti pada Juni tahun lalu di tengah eskalasi konflik Iran–Israel yang menyeret keterlibatan militer AS.
Dari Washington, Presiden Donald Trump terus menekan Teheran agar mencapai kesepakatan baru. Ia menggambarkan pengerahan armada laut AS ke kawasan sebagai kekuatan besar yang disiapkan untuk menjaga stabilitas sekaligus memberi tekanan strategis. “Kehadiran armada ini mencerminkan keseriusan Amerika Serikat dalam menghadapi berbagai kemungkinan di kawasan,” ujarnya.
Pengiriman tambahan kekuatan laut AS pada Januari, disusul rencana keberangkatan kapal induk kedua menuju Timur Tengah pada Jumat (13/02/2026), semakin menegaskan meningkatnya tensi menjelang perundingan. Situasi ini kembali menempatkan Selat Hormuz urat nadi energi global sebagai titik rawan yang diawasi dunia.
Pertemuan diplomatik yang dijadwalkan Selasa (17/02/2026) kini dipandang krusial, bukan hanya bagi hubungan Iran–AS, tetapi juga bagi stabilitas keamanan serta pasokan energi internasional. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan