Iran mengklaim serangan rudal dan pesawat nirawak berhasil melumpuhkan sistem pertahanan Amerika Serikat di Kuwait, namun klaim tersebut belum dikonfirmasi Washington maupun Kuwait.
TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran mengklaim serangan rudal dan pesawat nirawak yang dilancarkan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait berhasil melumpuhkan sistem radar, komunikasi, dan pertahanan udara milik Washington. Klaim tersebut disebut menjadi bagian dari eskalasi Operasi Nasr-2 yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut sasaran serangan meliputi radar peringatan dini, sistem komunikasi satelit, baterai pertahanan udara Patriot, hanggar pesawat nirawak MQ-9, hingga sejumlah fasilitas militer AS. Iran mengklaim beberapa pesawat nirawak turut hancur atau mengalami kerusakan berat.
“Para putra pemberani Iran yang perkasa memberikan pukulan telak kepada musuh yang putus asa, sementara malam gelap terus berlanjut bagi sistem radar dan pertahanan udara AS di seluruh wilayah,” demikian pernyataan IRGC sebagaimana diberitakan Sindonews, Kamis (23/07/2026).
Menurut IRGC, operasi tersebut merupakan bagian dari strategi penekanan sistem radar untuk membuka jalan bagi gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak berikutnya yang diklaim akan memiliki daya hancur lebih besar.
Secara terpisah, militer Iran juga mengklaim pesawat nirawak mereka menyerang tiga pangkalan AS di Kuwait dengan sasaran fasilitas personel, area parkir helikopter, gedung administrasi, dan infrastruktur pendukung lainnya. Selain itu, Iran menyatakan telah menghancurkan sistem radar pertahanan rudal serta pesawat tempur F-15 yang berada di dalam hanggar pangkalan militer AS di Yordania.
Teheran turut memperingatkan bahwa setiap serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran akan dianggap sebagai perluasan perang. Iran menegaskan kepentingan AS beserta negara-negara sekutu dan pendukung Washington akan menjadi target pembalasan apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
Di sisi lain, hingga kini pemerintah AS maupun Kuwait belum mengonfirmasi klaim Iran terkait kerusakan sistem radar, pesawat tempur, maupun perangkat pertahanan udara tersebut.
Sementara itu, pemerintah AS mengakui empat personel militernya tewas dalam serangan Iran dan insiden terkait di Yordania serta Irak. Laporan The New York Times menyebut Pentagon diduga belum mengungkap seluruh informasi mengenai puluhan prajurit yang terluka dalam serangan tersebut. Sejumlah pejabat AS yang dikutip media itu dan The Wall Street Journal juga menilai rudal Iran semakin efektif menembus sistem pertahanan Amerika karena peningkatan kecepatan, kemampuan manuver, dan perubahan taktik penggunaannya. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan