KYIV — Presiden Volodymyr Zelensky menyuarakan harapan agar putaran baru perundingan damai dengan Rusia yang dimediasi Amerika Serikat pada pekan depan menghasilkan kemajuan nyata. Ia menilai Kyiv terlalu sering didorong membuat konsesi, sementara tuntutan serupa terhadap Moskow belum terlihat seimbang.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum keamanan internasional di Munich, Sabtu (14/02/2026), sebagaimana dilaporkan media global Al Jazeera pada Minggu (15/02/2026). Dalam pidatonya, Zelensky menekankan bahwa proses negosiasi harus berjalan serius dan memberi manfaat konkret bagi penghentian perang terbesar di Eropa sejak 1945.
Ia mengungkapkan kegelisahan karena arah pembahasan dinilai kerap berputar pada pengorbanan dari pihak Ukraina. “Sering kali pembicaraan kembali pada isu konsesi, dan terlalu sering hanya dikaitkan dengan Ukraina, bukan Rusia,” ujarnya.
Sebelumnya, Washington telah memediasi dua putaran dialog di Abu Dhabi, namun pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan. Ketiga pihak dijadwalkan kembali duduk bersama di Jenewa dalam waktu dekat.
Zelensky menilai peluang perdamaian akan lebih besar bila negara-negara Eropa turut terlibat langsung di meja perundingan gagasan yang ditolak Moskow. “Tanpa jaminan keamanan yang tegas, perdamaian tidak akan bertahan dan perang berisiko terulang,” katanya menegaskan.
Salah satu isu paling sensitif adalah tuntutan Rusia agar pasukan Ukraina mundur sepenuhnya dari wilayah timur, termasuk area di Donetsk. Kyiv menolak penarikan sepihak dan meminta perlindungan keamanan jangka panjang dari Barat guna mencegah invasi berulang setelah gencatan senjata.
Menurut Zelensky, proposal jaminan keamanan dari AS disebut berdurasi 15 tahun, sementara Ukraina menginginkan komitmen minimal dua dekade. Ia juga menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin menolak kehadiran pasukan asing, tetapi menilai misi pemantauan gencatan senjata serta pertukaran tawanan perang tetap harus disepakati.
Di sisi lain, Zelensky mengakui adanya tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump agar peluang damai tidak dilewatkan. Ia pun mendesak sekutu Barat meningkatkan sanksi serta dukungan militer guna mendorong Rusia menuju penghentian konflik.
Perubahan komposisi delegasi Rusia menuju pertemuan Jenewa juga memicu kecurigaan Kyiv. Kremlin menunjuk penasihat presiden Vladimir Medinsky sebagai ketua tim baru, menggantikan kepala intelijen militer Igor Kostyukov yang sebelumnya memimpin negosiasi di Abu Dhabi. Pejabat Ukraina menilai pergantian itu berpotensi memperlambat tercapainya kesepakatan.
Dalam pidato utamanya, Zelensky bahkan memperingatkan bahaya kompromi sepihak dengan membandingkan situasi kini dengan peristiwa Eropa sebelum Perang Dunia II. “Mengakhiri perang dengan membagi Ukraina hanyalah ilusi, sama seperti keyakinan keliru bahwa pengorbanan wilayah lain dapat mencegah konflik besar,” katanya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan