Kawasan Khatulistiwa Disiapkan Jadi Episentrum Wisata

PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak mulai tancap gas mengubah wajah kawasan Tugu Khatulistiwa. Tak lagi sekadar monumen penanda garis lintang nol derajat, ikon kota ini diproyeksikan menjadi pusat aktivitas wisata berbasis event yang lebih hidup dan dinamis.

Melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak, strategi penguatan kawasan diarahkan pada penambahan agenda kegiatan sepanjang tahun. Pendekatan ini dilakukan menyusul meningkatnya minat kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik.

Kepala Disporapar Kota Pontianak, Rizal, menilai daya tarik destinasi tidak boleh hanya bertumpu pada nilai historis monumen semata.

“Kalau hanya mengandalkan tugu sebagai objek foto, dampaknya terbatas. Kawasan ini harus dihidupkan lewat berbagai event agar pengunjung punya alasan untuk datang kembali,” ujarnya, Minggu (22/02/2026).

Ia menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan tidak harus selalu oleh pemerintah. Organisasi perangkat daerah (OPD), komunitas kreatif, lembaga, hingga kelompok masyarakat didorong ambil bagian menggelar acara tematik di kawasan tersebut.

“Semakin banyak kolaborasi, semakin kuat magnet wisatanya. Kami ingin kawasan ini aktif sepanjang tahun,” katanya.

Meski difokuskan pada penguatan event, Rizal memastikan aspek pelestarian tetap menjadi perhatian utama. Status Tugu Khatulistiwa sebagai cagar budaya dinilai menjadi fondasi penting dalam pengembangan destinasi.

“Pengembangan harus berjalan seiring dengan pelestarian. Edukasi dan kenyamanan pengunjung tetap menjadi prioritas,” tegasnya.

Data Disporapar mencatat, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke bangunan utama tugu berkisar 5.000 hingga 6.000 orang setiap tahun. Angka tersebut belum termasuk pengunjung yang menikmati area luar kawasan.

Selain peristiwa kulminasi matahari yang rutin digelar, pemerintah kota kini mendorong lahirnya festival tematik, pertunjukan seni komunitas, hingga program wisata edukatif. Targetnya, lama tinggal wisatawan meningkat dan ekonomi pelaku usaha lokal ikut terdongkrak.

“Ke depan, kawasan ini tidak hanya menjadi simbol geografis, tetapi ruang publik yang produktif dan berdampak langsung pada UMKM serta komunitas kreatif,” pungkas Rizal.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjadikan Tugu Khatulistiwa sebagai episentrum wisata Pontianak yang tak sekadar ikonik, tetapi juga berdaya saing. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com