PASER – Produk cemilan lokal di Indonesia kini semakin beragam dan kreatif. Dari keripik pisang dengan rasa kekinian seperti keju, matcha, dan cokelat, hingga basreng (bakso goreng) dengan berbagai varian pedas dan gurih, hingga keripik pangsit dan seblak, semuanya meramaikan pasar cemilan nusantara. Selain rasanya yang menggugah selera, cemilan-cemilan ini tak hanya menjadi teman minum teh atau kopi saat bersantai, tetapi juga menawarkan pengalaman rasa sekaligus sentuhan kasih sayang dari dapur seorang ibu.
Fenomena ini menjadi nyata dalam perjalanan seorang ibu rumah tangga bernama Febry di Tanah Grogot. Dari bahan sisa di dapurnya, ia berhasil menciptakan keripik pangsit bernama “Kripang” by Bilfoods, yang kini diminati oleh masyarakat luas.
Bu Febry menceritakan awal mula ide menciptakan usaha keripik pangsit. Menurutnya, semuanya berawal dari sisa bahan setelah Lebaran. “Inspirasinya itu datang dari setelah lebaran. Waktu itu buat gohyong, kan bahan dasarnya dari kulit pangsit. Kemudian ada sisa banyak kulit pangsitnya. Jadi kepikiran, diapain yaa ini kulitnya biar tidak terbuang. Akhirnya coba-coba dipotong dadu, terus digoreng diberi bumbu, ternyata rasanya enak,” jelas Bu Febry saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Selasa (17/02/2026).
Awalnya, Bu Febry tidak berpikir untuk memasarkan keripik pangsitnya. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan ekonomi rumah tangga dan tuntutan penghasilan tambahan, ia termotivasi untuk memproduksi keripik tersebut secara lebih serius dan mulai dipasarkan.
Proses produksi awal tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah bahan baku utama, yakni kulit pangsit. Selain itu, distribusi produk ke toko-toko dan persaingan dengan produk serupa juga menjadi hambatan tersendiri.
“Awalnya kami memakai kulit pangsit frozen. Kemudian beralih ke kulit pangsit kiloan yang kami dapat dari pabriknya langsung di pasar. Nah kendalanya waktu itu ternyata kualitas kulit pangsitnya tidak selalu konsisten. Jadi kadang ada yang setelah digoreng jadi berminyak pangsitnya, padahal api, minyak, dan proses menggorengnya sama,” tambahnya.
Dari masalah tersebut, Bu Febry memutuskan untuk memproduksi sendiri kulit pangsitnya. Proses ini memerlukan trial and error karena sebelumnya ia belum pernah membuat kulit pangsit sendiri. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Bu Febry berhasil menemukan resep kulit pangsit yang pas, sesuai takaran, sehingga kualitas keripik bisa terjaga konsistensinya.
Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Keterbatasan penerimaan produk di toko dan kerugian akibat retur produk turut mewarnai perjalanan usaha Bu Febry. “Sebelum akhirnya bisa masuk ke toko oleh-oleh di Tanah Grogot, kami juga mengalami kendala kerugian dari retur produk. Kemudian dari beberapa gerai oleh-oleh khas di Paser yang kami datangi, hanya dua yang mau menerima produk kami. Untuk toko-toko yang lain persyaratannya cukup rumit, seperti harus mengirim sampel dulu, bahkan ada yang memang tidak menerima produk dari luar,” ungkapnya.
Meski menghadapi beragam hambatan, semangat Bu Febry untuk berinovasi tidak surut. Salah satu upaya yang ditempuh adalah menghadirkan desain kemasan menarik dan ekonomis agar produk lebih mudah diterima pasar.
“Jadi untuk sekarang kita ada varian rasa pedas daun jeruk, balado, dan original. Untuk kemasannya, kita ada dua versi. Untuk yang di toko oleh-oleh biasanya kami kemas dengan ukuran 250 gram dengan harga 20 ribu rupiah. Adapun untuk di toko-toko, kami buat versi kecil-kecil, per pack isi 24 bungkus kecil, harganya juga sama 20 ribu rupiah,” tutup Bu Febry.
Keuletan dan kegigihan Bu Febry dalam mengembangkan usaha Kripang ternyata memberi dampak signifikan pada kehidupan rumah tangganya. Berawal dari bahan sisa di dapur, kini usaha kecil yang ia rintis mampu memberdayakan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Cerita ini membuktikan bahwa kreativitas dan ketekunan dapat mengubah hal sederhana menjadi peluang usaha yang bernilai tinggi, sekaligus menghadirkan cita rasa yang penuh cinta dari dapur seorang ibu. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan