Kekeringan berkepanjangan membuat pasokan air terhenti, warga Sebatik terpaksa membeli air tangki dan melakukan penghematan ekstrem.
NUNUKAN – Krisis air bersih mulai menekan aktivitas warga di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), menyusul tidak turunnya hujan dalam waktu cukup lama yang berdampak pada terhentinya pasokan air di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut memaksa warga di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia itu bergantung pada pasokan air tangki berbayar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mencuci, hingga mandi.
Salah seorang warga Sebatik Tengah, Nona, mengungkapkan bahwa meski jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sudah tersedia, aliran air tidak berjalan hampir selama satu bulan terakhir.
“Jadi kita beli air profil tank aja untuk dipakai masak, mencuci dan mandi. Harganya satu profil biru (1.200 liter) itu Rp 120 ribu,” ujarnya, sebagaimana dilansir Radar Tarakan, Kamis, (26/03/2026).
Ia menambahkan, tingginya permintaan air membuat warga harus mengantre untuk mendapatkan pasokan, bahkan pemesanan tidak bisa langsung terpenuhi dalam satu hari.
“Saya kemarin pesan pagi, besoknya baru datang. Jadi kita tunggu saja, karena memang banyak yang pesan juga, bukan hanya kita,” tuturnya.
Kondisi ini membuat warga mulai melakukan penghematan air secara ketat. Dalam satu rumah tangga, satu ember air berkapasitas sekitar 20 liter harus digunakan bersama untuk beberapa orang.
“Kalau dibilang panik, sekarang warga Sebatik sudah panik. Untuk mandi saja, satu ember muatan 20 liter, bisa digunakan untuk dua orang. Jadi berhemat agar di rumah tidak kosong sebelum datang pesanan air kita,” akunya.
Berdasarkan informasi di lapangan, krisis air bersih ini melanda sejumlah desa di Pulau Sebatik, antara lain Desa Aji Kuning, Desa Lalesalo, Desa Bukit Harapan, Desa Sungai Limau, hingga Kampung Loadres.
Minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir menjadi faktor utama berkurangnya ketersediaan sumber air bersih di wilayah tersebut. Jika kondisi ini berlanjut tanpa adanya hujan dalam waktu dekat, krisis diperkirakan akan semakin memburuk.
Warga pun berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan segera menghadirkan solusi konkret, baik melalui distribusi air bersih, perbaikan sistem layanan PDAM, maupun langkah darurat lainnya guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap kehidupan masyarakat. []
Penulis: Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan