KUTAI BARAT – Teras UMKM Alun-Alun Itho menjadi salah satu pusat geliat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kutai Barat. Di lokasi tersebut, Kue Cincin Syifa terus mempertahankan eksistensinya sebagai produsen jajanan tradisional khas Banjar. Usaha rumahan yang dirintis sejak 2025 ini kini mampu memproduksi ratusan kue cincin setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar lokal.
Pemilik usaha, Syifa Aulia, mengungkapkan bahwa bisnis yang dijalankannya berawal dari hobi memasak serta keinginan melestarikan kuliner tradisional yang mulai jarang ditemui. “Saya ingin kue cincin tetap dikenal generasi muda. Awalnya hanya dibuat untuk keluarga, lalu banyak yang pesan,” ujarnya saat ditemui di Teras UMKM Itho, Minggu (14/02/2026).
Kue cincin merupakan jajanan tradisional berbahan dasar tepung beras dan gula merah yang memiliki cita rasa manis legit serta tekstur khas. Di tangan Syifa, kue ini diproduksi secara rumahan dengan tetap mempertahankan resep tradisional. Konsistensi rasa dan kualitas menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan pelanggan.
Selain berjualan di Teras UMKM ITHO, Kue Cincin Syifa juga memasarkan produknya di pasar-pasar malam setempat. Tidak hanya itu, usaha ini turut menerima pesanan untuk berbagai acara hajatan dan kegiatan pemerintahan. Dalam sehari, produksi dapat mencapai ratusan biji, tergantung jumlah pesanan yang masuk.
Meski permintaan terbilang stabil, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah tantangan. Ibu Rusmini mengaku kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan peralatan produksi dan fluktuasi harga bahan baku. Kondisi tersebut memengaruhi kapasitas produksi serta margin keuntungan yang diperoleh.
Ia berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait dalam bentuk pelatihan pengembangan usaha dan bantuan permodalan. Dengan dukungan tersebut, usaha yang dirintisnya diharapkan mampu berkembang lebih besar, baik dari sisi kapasitas produksi maupun jangkauan pemasaran.
Keberadaan Kue Cincin Syifa tidak hanya berkontribusi pada perputaran ekonomi lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional khas Banjar di Kutai Barat. Dengan menjaga kualitas dan cita rasa autentik, usaha ini diharapkan terus tumbuh serta menjadi salah satu penggerak UMKM daerah. []
Penulis: Muhammad Jamaluddin | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan