Lonjakan Campak Mengintai, Kesadaran ke Posyandu Masih Minim

Lonjakan lebih dari 200 kasus campak di Balikpapan memicu kekhawatiran penularan saat Lebaran, terutama akibat tingginya mobilitas dan rendahnya cakupan imunisasi.

BALIKPAPAN – Risiko penyebaran penyakit campak di Kota Balikpapan meningkat seiring tingginya mobilitas masyarakat selama momen Idulfitri 1447 Hijriah. Tradisi silaturahmi yang melibatkan kontak fisik dan kerumunan dinilai berpotensi mempercepat penularan penyakit yang menyebar melalui udara tersebut.

Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan, Iim, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada saat menjalankan tradisi Lebaran yang melibatkan interaksi dekat.

“Kalau Idulfitri kan orang salaman, cipika-cipiki, kumpul di banyak acara. Itu yang harus diwaspadai karena penyebarannya cepat lewat udara,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (30/03/2026).

Data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan menunjukkan lonjakan kasus campak pada awal 2026. Hingga pertengahan Maret 2026, jumlah kasus tercatat telah melampaui 200 kasus dan tersebar di hampir seluruh kelurahan di Balikpapan.

Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, menjelaskan bahwa pola penyebaran saat ini berbeda dari biasanya. Tidak hanya menyerang anak-anak, kasus campak juga banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa 20 hingga 40 tahun yang belum memiliki riwayat imunisasi lengkap. “Kalau sudah pernah imunisasi biasanya tidak terlalu parah karena sudah ada kekebalan tubuh,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, campak merupakan penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang sangat mudah menular melalui droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Menanggapi kondisi tersebut, Iim menilai penggunaan masker kembali menjadi langkah pencegahan yang relevan di tengah peningkatan kasus. “Walaupun pakai masker lagi, tidak apa-apa, itu untuk melindungi diri,” katanya.

DKK Balikpapan juga menggencarkan program imunisasi kejar bagi masyarakat yang belum mendapatkan vaksin, terutama kelompok rentan. Program ini dinilai penting untuk menutup celah penularan di tengah tingginya mobilitas masyarakat pasca-Lebaran.

Selain itu, DKK Balikpapan mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan sebelum menyentuh bayi serta menghindari kontak berlebihan. “Jangan langsung menyentuh atau mencium bayi tanpa cuci tangan. Bisa saja kita membawa virus tanpa disadari,” jelas Alwiati.

Upaya lain yang dinilai efektif adalah isolasi mandiri bagi penderita guna memutus rantai penularan, khususnya di lingkungan keluarga.

Di sisi lain, Iim menyoroti rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke pos pelayanan terpadu (posyandu). Dari sekitar 1.800 unit posyandu yang ada, partisipasi masyarakat dinilai masih belum maksimal sehingga menjadi tantangan dalam upaya pencegahan penyakit.

“Masih banyak yang tidak datang ke posyandu. Padahal itu penting, bukan hanya untuk imunisasi tapi juga memantau kesehatan,” kata Iim.

Untuk meningkatkan partisipasi, di sejumlah wilayah petugas bahkan melakukan penjemputan langsung ke masyarakat dengan melibatkan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).

Iim juga mendorong adanya pendekatan yang lebih menarik agar generasi muda lebih peduli terhadap layanan kesehatan berbasis masyarakat tersebut.

“Mungkin perlu dibuat lebih menarik supaya anak muda juga mau datang, jadi tidak dianggap hal yang biasa saja,” ungkap Iim.

Ia menegaskan bahwa pencegahan penyebaran campak tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

“Petugas puskesmas dan posyandu jumlahnya terbatas, jadi kesadaran masyarakat itu yang utama,” tegasnya.

Pemerintah melalui DKK Balikpapan mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi, menjaga kebersihan, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kontak dengan orang lain apabila mengalami gejala campak seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan ruam merah.

Dengan peningkatan kesadaran masyarakat dan cakupan imunisasi yang lebih luas, penyebaran campak di Balikpapan diharapkan dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa. []

Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com