ABUJA – Suasana dini hari yang seharusnya tenang berubah menjadi mimpi buruk di Negara Bagian Niger, Nigeria. Puluhan warga dilaporkan tewas setelah gerombolan bandit bersenjata menyerang tiga desa pada Sabtu (14/02/2026) saat fajar belum sepenuhnya menyingsing.
Kelompok bersenjata itu disebut datang menggunakan puluhan sepeda motor. Mereka memasuki desa-desa dalam gelap, lalu melepaskan tembakan, membakar rumah, dan menculik warga. Juru bicara Kepolisian Negara Bagian Niger, Wasiu Abiodun, membenarkan adanya serangan tersebut.
“Benar, telah terjadi penyerangan di Tunga-Makeri. Enam orang dinyatakan meninggal dunia di lokasi itu,” ujar Abiodun kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa situasi di lapangan sangat memprihatinkan. “Beberapa rumah dibakar dan ada warga yang dibawa paksa oleh para pelaku. Jumlah pasti korban penculikan masih dalam pendataan,” katanya.
Setelah menyerang Tunga-Makeri, kelompok tersebut bergerak ke Desa Konkoso. Seorang warga yang selamat menggambarkan situasi mencekam saat para pelaku datang. “Mereka datang ketika kami masih tidur. Tiba-tiba terdengar tembakan dan rumah-rumah mulai terbakar. Kami berlarian menyelamatkan diri,” ungkap saksi tersebut kepada AFP.
Menurut kesaksian itu, sebagian besar bangunan di desa tersebut hangus dilalap api. Empat perempuan dilaporkan diculik dalam serangan tersebut. Serangan tidak berhenti di situ. Di Desa Pissa, para pelaku membakar kantor polisi setempat. Seorang warga dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Data korban tewas masih berbeda-beda. Reuters melaporkan sekitar 32 orang meninggal dunia, sedangkan AFP menyebut sedikitnya 46 orang tewas. Aparat keamanan menyatakan angka tersebut berpotensi bertambah.
Dalam laporan keamanan yang dikutip AFP, disebutkan bahwa kelompok penyerang menggunakan sekitar 41 sepeda motor, masing-masing ditumpangi dua hingga tiga orang. “Pola serangan ini mirip dengan kejadian sebelumnya di wilayah yang sama,” demikian tertulis dalam laporan keamanan tersebut.
Kekerasan oleh kelompok bandit telah lama menjadi masalah serius di Nigeria. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, intensitas serangan meningkat tajam, terutama di wilayah barat laut dan tengah negara itu.
Pemerintah Nigeria kini menghadapi tekanan besar untuk memulihkan keamanan. Sementara itu, perhatian internasional juga tertuju pada situasi tersebut. Amerika Serikat sebelumnya melancarkan operasi terhadap militan Islamis di Negara Bagian Sokoto.
Presiden Donald Trump bahkan menyatakan sikap tegas. “Jika kekerasan terhadap warga sipil terus terjadi, akan ada langkah lanjutan,” ujar Trump dalam pernyataan terpisah.
Meski demikian, sejumlah lembaga pemantau menegaskan bahwa korban kekerasan di Nigeria berasal dari berbagai latar belakang agama, termasuk komunitas Muslim.
Tragedi terbaru ini kembali menunjukkan rapuhnya stabilitas keamanan di Nigeria, di tengah ancaman bandit bersenjata, kelompok ekstremis, dan konflik separatis yang belum sepenuhnya mereda. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan