Program Makan Bergizi Gratis di Tarakan mulai dirasakan manfaatnya oleh ratusan siswa dengan dukungan penuh sekolah dan orang tua.
TARAKAN – Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah mulai menunjukkan dampak nyata terhadap siswa, terutama dalam meningkatkan antusiasme belajar dan perhatian terhadap asupan gizi di lingkungan pendidikan.
Program MBG tersebut kini telah berjalan di TK dan SD IT Ibnu Abbas, Mamburungan, dengan melibatkan ratusan siswa dan tenaga pendidik sebagai penerima manfaat. Kepala Sekolah SD IT Ibnu Abbas, Jamil, menyebut program ini telah lama dinantikan oleh pihak sekolah.
“Awalnya ada pendataan kelayakan dapur di sekolah, apakah siap dijadikan dapur MBG. Namun dalam pelaksanaannya, skemanya berubah,” ujarnya, sebagaimana diwartakan Simp4tik, Selasa, (31/03/2026).
Ia menjelaskan, pada tahap awal program dilakukan pendataan fasilitas oleh aparat Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk memastikan kesiapan sekolah. Namun, dalam pelaksanaannya, pemerintah mengubah skema distribusi dengan membagi kapasitas dapur hingga maksimal 3.000 penerima manfaat per dapur.
Di wilayah Tarakan Timur, program ini didukung Yayasan Sadewa Pejuang Bergizi yang melakukan survei langsung sebelum pendistribusian makanan. “Untuk sekolah kami, pihak yayasan datang langsung melakukan survei. Dan hari ini program MBG sudah mulai berjalan,” jelasnya.
Dari sisi penerima manfaat, hampir seluruh warga sekolah terlibat dalam program ini. Sebanyak 335 siswa dan 45 guru menerima bantuan makanan bergizi, dengan selisih data yang sangat kecil. “Secara umum sudah sesuai, hanya ada selisih kecil di data guru, sekitar dua orang saja,” katanya.
Antusiasme siswa terlihat tinggi sejak awal program digulirkan. Menurut Jamil, para siswa bahkan kerap menanyakan jadwal pelaksanaan MBG jauh sebelum program dimulai. “Anak-anak sangat antusias, sering bertanya kapan MBG dimulai. Mereka memang sudah lama menunggu,” ungkapnya.
Dukungan juga datang dari orang tua siswa. Hampir seluruh orang tua menyetujui program tersebut, dengan hanya satu siswa yang tidak mengikuti karena kebutuhan khusus. “Secara umum orang tua menerima dengan baik program ini,” tambahnya.
Meski mendapat respons positif, pihak sekolah menekankan pentingnya menjaga kualitas makanan agar tujuan peningkatan gizi tetap tercapai. “Harapan kami kualitas makanan tetap terjaga dan program ini bisa terus berlanjut,” tegasnya.
Ia juga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi, tetapi turut memperluas akses pendidikan yang merata. “Kita berharap ke depan tidak hanya makan bergizi gratis, tetapi juga pendidikan gratis, karena keduanya sama-sama penting,” ujarnya.
Menanggapi isu yang sempat berkembang di sejumlah daerah terkait pelaksanaan MBG, Jamil mengimbau agar setiap persoalan diselesaikan melalui komunikasi yang baik. “Kalau ada kekurangan, baik dari jumlah maupun kualitas, sebaiknya dikomunikasikan secara kekeluargaan untuk evaluasi bersama,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan media sosial sebaiknya menjadi langkah terakhir dalam menyampaikan keluhan. “Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan menjaga tujuan utama program ini, yaitu meningkatkan gizi anak-anak,” pungkasnya.
Program MBG di Tarakan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi sejak usia dini, sekaligus mendorong pemerataan layanan pendidikan di daerah. []
Penulis: Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan