Sepi Pengunjung, Museum Kayu Tenggarong Simpan Ratusan Koleksi Langka

Penurunan jumlah pengunjung Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong terjadi di tengah kekayaan koleksi fosil kayu, budaya, dan kerajinan yang bernilai edukatif tinggi.

KUTAI KARTANEGARA – Jumlah kunjungan ke Museum Kayu Tuah Himba di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir, meskipun museum tersebut menyimpan ratusan koleksi bernilai edukatif tinggi, termasuk fosil kayu yang menjadi ikon utamanya.

Penjaga Loket Museum Kayu Tenggarong, Udin, mengungkapkan bahwa tren kunjungan masyarakat kini tidak stabil dan cenderung menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dalam kondisi normal, jumlah pengunjung bahkan tidak dapat diprediksi setiap hari.

“Kalau sekarang, pengunjung tidak menentu. Kadang ada, kadang tidak ada sama sekali. Dalam sebulan paling sekitar 100 orang,” ujar Udin saat ditemui, Jumat (27/03/2026).

Museum Kayu Tuah Himba yang berdiri sejak 1994 dan mulai dibuka untuk umum pada 1996 ini menyimpan beragam koleksi kayu dari dalam dan luar Kalimantan, bahkan hingga luar negeri. Total koleksi di dalam ruangan mencapai sekitar 400 item, dan jika termasuk koleksi tanaman, jumlahnya mencapai sekitar 700 jenis.

Menurut Udin, salah satu koleksi yang kerap menarik perhatian pengunjung adalah dua spesimen buaya yang diawetkan. Kedua buaya tersebut berasal dari wilayah Sangatta dan Muara Badak, yang sebelumnya dikenal karena pernah memangsa manusia sebelum akhirnya ditangkap dan dijadikan koleksi museum.

“Yang sering ditanyakan pengunjung itu buaya. Tapi sebenarnya ikon utama di sini tetap fosil kayu yang sudah menjadi batu,” katanya.

Fosil kayu unggulan di museum ini berasal dari jenis kayu ulin dan leleban yang telah mengalami proses alami hingga berubah menjadi batu selama ratusan tahun. Koleksi tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi bukti kekayaan geologi dan keanekaragaman hayati Kaltim pada masa lampau.

Selain fosil, museum ini juga menyimpan ratusan jenis kayu komersial khas Pulau Kalimantan. Koleksi tersebut dilengkapi dengan berbagai daun dari wilayah Kaltim serta hasil kerajinan berbahan dasar kayu yang mencerminkan pemanfaatan sumber daya alam secara tradisional.

Di ruang pamer lainnya, pengunjung dapat melihat ukiran kayu khas Kalimantan, termasuk patung tradisional Dayak Kenyah dan miniatur Rumah Betang. Koleksi ini memperlihatkan kekayaan budaya lokal yang erat kaitannya dengan penggunaan kayu sebagai material utama dalam kehidupan masyarakat.

Museum ini juga memiliki koleksi lempengan kayu kapur berdiameter sekitar 60 sentimeter. Di habitat aslinya, pohon kapur dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 60 meter dan lazim dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, khususnya untuk pondasi bangunan.

Tidak hanya itu, tersedia pula ruang khusus yang menampilkan berbagai kerajinan berbahan dasar rotan, mulai dari perabot rumah tangga hingga elemen dekoratif seperti lampu taman dan kursi.

Meski memiliki koleksi yang beragam dan sarat nilai edukasi, pengelolaan serta pengembangan museum sepenuhnya berada di bawah kewenangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar. Udin berharap ada langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik museum agar jumlah kunjungan kembali meningkat.

“Harapannya masyarakat bisa lebih banyak berkunjung ke museum ini,” ujarnya.

Pengunjung museum ini tidak hanya berasal dari Kukar, tetapi juga dari luar daerah hingga mancanegara, meskipun jumlahnya saat ini masih terbatas. []

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com