Tanpa Peringatan, Israel Gempur Basis Hizbullah di Beirut

Rentetan ledakan di Beirut menandai meningkatnya eskalasi konflik Israel dan Hizbullah yang kini meluas ke darat dan udara.

BEIRUT – Eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali meningkat setelah rentetan ledakan mengguncang wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, pada Jumat pagi waktu setempat, menandai intensitas serangan yang kian meluas tanpa peringatan spesifik sebelumnya.

Ledakan dilaporkan terjadi di kawasan yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah. Media Lebanon menyebutkan suara dentuman terdengar sejak pagi hari, sementara koresponden kantor berita Agence France-Presse (AFP) juga mengonfirmasi mendengar beberapa ledakan dari area tersebut. Rekaman visual yang beredar menunjukkan asap tebal membumbung tinggi usai serangan, sebagaimana diwartakan Detiknews, Jumat (27/03/2026).

Serangan terbaru ini memperlihatkan perubahan pola operasi militer Israel yang sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan evakuasi massal, namun kali ini tidak memberikan peringatan khusus sebelum serangan dilancarkan.

Di sisi lain, konflik darat turut berkembang. Israel dilaporkan terus mendorong pasukannya masuk lebih dalam hingga mendekati Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan, sebagai bagian dari strategi memperluas zona keamanan.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer tersebut bertujuan menciptakan perlindungan dari ancaman serangan lintas batas. “Kami hanya menciptakan zona penyangga yang lebih besar yang dapat mencegah invasi darat ke Israel dan serangan rudal,” kata Netanyahu dalam pernyataan video resmi.

Namun, langkah tersebut mendapat respons keras dari Hizbullah. Pemimpin Hizbullah, Qassem, sebelumnya menyatakan pihaknya menolak perundingan gencatan senjata selama serangan Israel masih berlangsung.

Dalam perkembangan terbaru, Hizbullah mengklaim telah meluncurkan puluhan serangan balasan terhadap pasukan Israel, termasuk serangan roket ke wilayah tengah Israel. Media Israel melaporkan enam roket yang ditembakkan berhasil dicegat sistem pertahanan udara.

Selain itu, Hizbullah juga menyebut telah melakukan lebih dari 80 serangan dalam satu hari, yang disebut sebagai intensitas tertinggi sejak konflik terbaru pecah pada 2 Maret lalu. Serangan tersebut menyasar sejumlah titik di wilayah perbatasan.

Situasi ini menunjukkan konflik antara kedua pihak tidak hanya berlanjut, tetapi juga semakin meluas dengan potensi dampak regional yang lebih besar, terutama bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. []

Penulis: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com