Sebanyak 19 migran tewas dan puluhan lainnya diselamatkan dalam insiden perahu karet hanyut di perairan dekat Lampedusa di tengah cuaca ekstrem.
ROMA – Krisis kemanusiaan di Laut Mediterania kembali menelan korban jiwa setelah sedikitnya 19 migran ditemukan tewas di sebuah perahu karet yang terombang-ambing di selatan Pulau Lampedusa, Italia. Insiden ini menegaskan tingginya risiko jalur penyeberangan ilegal yang masih menjadi pilihan terakhir para migran dari Afrika Utara menuju Eropa.
Sebanyak 58 orang lainnya, termasuk lima anak, berhasil diselamatkan oleh penjaga pantai Italia dalam operasi yang berlangsung pada Rabu (01/04/2026) dini hari. Para korban selamat langsung dievakuasi ke Lampedusa untuk mendapatkan penanganan medis dan perlindungan darurat.
Juru bicara penjaga pantai Italia, Roberto D’Arrigo, menyebutkan bahwa proses penyelamatan dilakukan setelah perahu tersebut terdeteksi hanyut di wilayah perairan pencarian dan penyelamatan Libya. “Perahu itu terlihat hanyut oleh pesawat pengintai Italia pada hari Selasa, tetapi tidak ada kapal penjaga pantai Libya atau kapal sipil di daerah tersebut untuk membantu,” ujarnya, sebagaimana dilansir Afp, Rabu, (01/04/2026).
Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca ekstrem memperparah situasi di lapangan. “Beberapa migran mungkin telah meninggal saat diangkut kembali ke Lampedusa dalam kondisi cuaca yang sangat buruk dengan gelombang hingga tujuh meter (23 kaki),” katanya.
Wali Kota Lampedusa, Filippo Mannino, mengungkapkan bahwa sejumlah korban selamat harus mendapatkan perawatan intensif. “Tujuh orang, termasuk dua anak, sedang dirawat di rumah sakit (RS) karena ‘hipotermia dan keracunan akibat asap hidrokarbon’,” ujarnya.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan lemahnya sistem respons di jalur migrasi laut, terutama ketika tidak ada kapal penyelamat lain di lokasi saat kondisi darurat terjadi. Gambar yang dirilis kantor berita menunjukkan kantong jenazah diturunkan dari kapal penjaga pantai di dermaga, mempertegas dampak tragis dari perjalanan tersebut.
Pulau Lampedusa selama ini menjadi titik utama pendaratan migran yang menyeberangi Laut Mediterania. Banyak dari mereka menghadapi risiko besar, mulai dari cuaca buruk hingga keterbatasan logistik di tengah laut.
Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), menyampaikan duka atas kejadian tersebut. “Kami sangat sedih atas insiden tragis lainnya di Mediterania,” tulis UNHCR melalui akun X, seraya menambahkan bahwa timnya telah memberikan bantuan kepada para korban selamat.
Berdasarkan data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB, sedikitnya 624 migran dilaporkan meninggal atau hilang di rute Mediterania tengah sepanjang tahun ini. Angka tersebut menunjukkan bahwa jalur ini masih menjadi salah satu yang paling mematikan di dunia.
Dalam insiden terpisah di hari yang sama, 19 migran asal Afghanistan, termasuk seorang bayi, juga dilaporkan meninggal setelah perahu karet yang mereka tumpangi tenggelam di Laut Aegea, lepas pantai barat daya Turki. Peristiwa ini memperkuat gambaran bahwa krisis migrasi di kawasan tersebut masih jauh dari kata selesai dan memerlukan perhatian serius komunitas internasional. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan