Konsep pasar tradisional dengan koin kayu di Hutan Mangrove Lati Tuo berhasil menarik lonjakan pengunjung sekaligus menggerakkan UMKM lokal.
PASER – Memasuki akhir masa libur Lebaran 2026, destinasi wisata Hutan Mangrove Lati Tuo di Desa Klempang Sari, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim), diserbu pengunjung berkat konsep wisata berbasis tradisional yang menggabungkan alam, budaya, dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Lonjakan kunjungan tersebut dipicu oleh hadirnya Pasar Pakot Lati Tuo yang berarti “Pasar Hutan Tua” dengan konsep unik menggunakan koin kayu sebagai alat tukar transaksi. Inovasi ini menjadi daya tarik utama yang membedakan destinasi tersebut dari wisata lainnya di Paser.
Pengelola Hutan Mangrove Lati Tuo, Husin, menjelaskan bahwa konsep tradisional sengaja dihadirkan untuk memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung sekaligus mendukung pelaku UMKM lokal.
“Untuk tahun ini kita sengaja mengusung konsep yang unik, yaitu berwisata dengan konsep tradisional. Jadi pengunjung bisa membeli makanan, cemilan, maupun jajanan tradisional dengan alat tukar berupa koin kayu”, papar Husin saat ditemui Sabtu (28/03/2026).
Pasar Pakot Lati Tuo beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WITA, dengan puluhan pelaku UMKM yang menjajakan beragam kuliner khas daerah. Mayoritas pelaku usaha berasal dari Desa Klempang Sari, namun juga melibatkan UMKM dari wilayah sekitar seperti Kuaro, Rangan, dan Kendarum.
Pada hari pertama pembukaan, tercatat sekitar 20 UMKM berpartisipasi, dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya minat pengunjung.
“kita utamakan jajanan tradisional, ada getuk, cenil, bubur sambal tumpang, kalau jajanan orang kampung sini seperti buras, ketan bakar, lemang, macam-macam”, imbuhnya.
Selain menikmati kuliner tradisional, pengunjung juga dapat bersantai di kawasan hutan mangrove yang asri dan sejuk. Kawasan ini juga menawarkan interaksi langsung dengan monyet liar yang kerap berkeliaran di sekitar lokasi.
Fasilitas yang tersedia dinilai cukup memadai, mulai dari saung untuk beristirahat, toilet bersih, hingga musala. Pengunjung juga dapat menikmati wisata susur sungai menggunakan perahu dengan kapasitas 6 hingga 7 orang, dengan tarif Rp25.000 per perjalanan.
Harga tiket masuk yang terjangkau turut menjadi faktor pendukung tingginya minat kunjungan. Untuk dewasa dikenakan tarif Rp10.000, sementara anak-anak Rp5.000.
Dengan konsep yang unik serta harga yang terjangkau, terbukti mampu menarik antusias masyarakat untuk berkunjung kesana. “Hari ini perdana buka untuk yang pasar Lati Tuo, Alhamdulillah cukup ramai, jumlah pengunjung bahkan melebihi jumlah pengunjung saat hari kedua setelah Lebaran”, pungkasnya.
Salah satu pengunjung, Misrinah, mengaku tertarik datang karena ingin merasakan suasana pasar tradisional yang jarang ditemui di destinasi wisata modern.
“Saya dari kuaro, biasa sering kesini, tapi ini unik karena ada pasar tradisional, banyak jajanan tradisional juga, jadi datang untuk mencoba itu” ungkapnya sambil mengantri di lapak Pasar Lati Tuo.
Dengan perpaduan keindahan alam, konsep tradisional, fasilitas memadai, serta keterlibatan UMKM lokal, Hutan Mangrove Lati Tuo diharapkan dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan di Paser sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan