Solar Rp16 Ribu per Liter, Pendapatan Nelayan Kotabaru Terancam

Harga solar eceran yang mencapai Rp16 ribu per liter di Desa Rampa, Kotabaru, membuat biaya operasional melaut membengkak dan mengancam pendapatan nelayan di tengah ketidakpastian hasil tangkapan.

KOTABARU – Mahalnya harga solar eceran yang mencapai Rp16 ribu per liter menjadi ancaman bagi pendapatan nelayan di Kabupaten Kotabaru. Lonjakan biaya bahan bakar tersebut membuat nelayan harus mengeluarkan modal lebih besar sebelum melaut, sementara hasil tangkapan ikan tidak dapat dipastikan.

Persoalan ini terutama dirasakan nelayan di Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara. Harga solar eceran yang tinggi membuat biaya operasional kapal semakin membengkak dan berpotensi mengurangi pendapatan bersih nelayan.

Ketua Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru, Hamdani, menyampaikan bahwa mahalnya bahan bakar masih menjadi persoalan yang dihadapi nelayan. Ia mengungkapkan kondisi tersebut kepada Radar Banjarmasin, Minggu (01/11/2026), sebagaimana diberitakan Radar Banjarmasin, Minggu, (01/11/2026).

“Solar merupakan kebutuhan utama untuk mengoperasikan kapal. Ketika harganya terus meningkat, nelayan harus menyiapkan biaya lebih besar sebelum berangkat melaut,” keluhnya.

Menurut Hamdani, kebutuhan bahan bakar menjadi salah satu komponen penting yang harus dipersiapkan sebelum kapal beroperasi. Nelayan tidak hanya membutuhkan peralatan tangkap dan perbekalan, tetapi juga solar dalam jumlah yang cukup untuk menjangkau lokasi penangkapan ikan.

Beban tersebut semakin terasa ketika harga solar mencapai Rp16 ribu per liter. Pengeluaran yang harus disiapkan nelayan pun meningkat, meskipun belum ada kepastian mengenai jumlah hasil tangkapan yang akan diperoleh.

“Kalau harga solar sudah Rp16 ribu per liter, tentu sangat terasa bagi nelayan. Belum tentu hasil tangkapan yang diperoleh bisa sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ungkapnya.

Ketidakpastian hasil tangkapan membuat kondisi ekonomi nelayan semakin rentan. Ketika hasil laut melimpah, pendapatan mungkin masih mampu menutupi biaya operasional. Namun, apabila hasil tangkapan sedikit, keuntungan yang diperoleh dapat semakin menipis setelah dikurangi pengeluaran untuk bahan bakar.

“Nelayan ini bergantung pada hasil laut. Kita tidak pernah tahu berapa banyak ikan yang didapat saat melaut. Sementara kebutuhan solar harus tetap dipenuhi,” ujarnya.

Dampak tingginya biaya operasional tersebut juga berpotensi dirasakan keluarga nelayan. Sebab, pendapatan dari aktivitas melaut menjadi sumber pemenuhan kebutuhan sehari-hari, mulai dari belanja rumah tangga hingga biaya pendidikan anak.

Hamdani berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius melalui solusi yang memungkinkan nelayan memperoleh bahan bakar dengan harga lebih terjangkau. Dukungan tersebut dinilai penting agar kenaikan biaya operasional tidak semakin menekan pendapatan masyarakat pesisir.

“Harapan kami tentu ada perhatian dari pemerintah. Walaupun sebenarnya sudah sering ke lapangan. Jangan sampai nelayan semakin terbebani dengan biaya operasional, sementara hasil tangkapan juga tidak menentu,” harapnya.

Upaya mencari solusi atas persoalan harga solar diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan aktivitas penangkapan ikan sekaligus melindungi pendapatan keluarga nelayan di Kotabaru. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *