KUTAI KARTANEGARA – Di tengah persaingan produk kuliner instan yang semakin ketat, usaha bumbu basah rumahan bermerek KING CITY ETAM tetap bertahan dan menunjukkan eksistensinya. Berdiri sejak 2013, usaha milik Ida Nahriah ini konsisten memproduksi bumbu basah khas Banjar dari kediamannya di Jalan Kartini RT 18 No 39, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Ida Nahriah yang juga berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kesehatan, merintis usaha tersebut secara mandiri dalam skala home industri. Selama lebih dari satu dekade, ia menjalankan seluruh proses produksi tanpa mempekerjakan karyawan.
“Saya jalankan sendiri karena masih skala rumahan. Mulai dari produksi sampai pengemasan,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin (02/03/2026).
Keputusan mempertahankan sistem produksi mandiri dilakukan untuk menjaga kualitas dan konsistensi rasa. Sejak berdiri, KING CITY ETAM telah memiliki enam varian bumbu basah khas Banjar, yakni soto Banjar, rawon, kare merah, kare kuning, bistik, dan masak habang. Seluruh produk tersebut telah memiliki legalitas lengkap, di antaranya izin PIRT (Produksi Industri Rumah Tangga), Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, serta merek dagang yang terdaftar Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Dari enam varian tersebut, bumbu soto Banjar menjadi produk paling diminati konsumen. Untuk setiap varian, kapasitas produksi mencapai 5 kilogram bahan baku dalam satu kali proses. Dalam satu bulan, Ida melakukan produksi sebanyak 4 hingga 6 kali, tergantung tingkat permintaan pasar.
Secara rata-rata, penjualan setiap bulan berada pada kisaran 13 hingga 18 kilogram. Angka tersebut dapat meningkat hingga tiga kali lipat saat momen hari besar keagamaan seperti Lebaran dan Natal. Pada periode tersebut, produksi bahkan bisa dilakukan hampir setiap hari untuk memenuhi lonjakan pesanan.
“Kalau bulan puasa biasanya bumbu keluar setiap hari. Permintaan memang jauh lebih tinggi dibanding hari biasa,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi, usaha ini memberikan margin keuntungan yang cukup stabil. Dengan modal produksi sekitar Rp3 juta dalam satu siklus, laba bersih yang diperoleh dapat mencapai lebih dari Rp1 juta per bulan, tergantung volume penjualan.
Untuk menjaga cita rasa autentik khas Banjar, Ida bekerja sama dengan pemasok tetap di Samarinda sebagai sumber bahan baku utama. Beberapa rempah khas juga didatangkan langsung dari Kalimantan Selatan guna mempertahankan keaslian rasa yang menjadi ciri khas produknya.
Produk KING CITY ETAM dipasarkan dengan harga Rp18.000 untuk kemasan 100 gram, Rp25.000 untuk 200 gram, dan Rp30.000 untuk 250 gram. Khusus wilayah Samarinda, terdapat penyesuaian harga sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 untuk menutupi biaya pengantaran.
Daya tahan produk menjadi perhatian utama karena tidak menggunakan bahan pengawet sintetis. Ida memilih memanfaatkan minyak goreng sebagai pengawet alami. Bumbu basah tersebut mampu bertahan 5–7 hari pada suhu ruang dan hingga enam bulan sampai satu tahun apabila disimpan dalam freezer.
“Sebenarnya pengawet pangan itu ada batas amannya, tapi saya belum bisa menerima kalau harus pakai pengawet. Saya lebih memilih cara alami,” tegasnya.
Dari sisi pemasaran, Ida memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Namun, ia mengakui promosi digital masih menjadi tantangan karena jangkauan unggahan yang tidak selalu optimal. Selain itu, keterbatasan ruang penyimpanan di sejumlah gerai frozen food juga menjadi kendala distribusi karena kapasitas freezer yang terbatas.
Meski demikian, jangkauan pasar KING CITY ETAM telah meluas tidak hanya di Tenggarong dan Samarinda, tetapi juga ke sejumlah daerah di Pulau Jawa, Kalimantan Selatan, bahkan hingga Amerika Serikat, Australia, dan Kanada. Pengiriman luar negeri dilakukan melalui perantara rekan di Yogyakarta dan Depok yang kemudian membawa produk ke negara tujuan.
Ke depan, Ida berharap produk bumbu basah khas Banjar ini semakin dikenal luas tanpa harus mengorbankan prinsip kualitas, keamanan pangan, dan cita rasa autentik yang telah dijaga sejak awal berdiri.
Konsistensi tersebut menjadikan KING CITY ETAM sebagai salah satu contoh home industri lokal di Tenggarong yang mampu bertahan lebih dari satu dekade dan menembus pasar lintas daerah hingga mancanegara. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan