HAVANA – Pemerintah Kuba secara resmi mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa dari pihaknya dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela. Sebanyak 32 personel militer dan kepolisian Kuba dilaporkan tewas dalam operasi tersebut, yang berlangsung pada akhir pekan lalu dan memicu ketegangan baru di kawasan Amerika Latin.
Pengumuman ini disampaikan otoritas Kuba pada Minggu (04/01/2026) melalui siaran televisi nasional. Pernyataan tersebut menjadi pengakuan resmi pertama Havana terkait dampak langsung operasi militer AS terhadap personel Kuba yang berada di Venezuela.
Dalam keterangannya, pemerintah Kuba menyebut para personel yang gugur tengah menjalankan tugas berdasarkan permintaan resmi pemerintah Venezuela. Namun demikian, Havana tidak mengungkapkan secara rinci bentuk misi yang sedang dijalankan oleh aparat tersebut saat operasi AS berlangsung.
Selama ini, Kuba dikenal sebagai sekutu strategis Venezuela dan memiliki keterlibatan panjang dalam mendukung sektor keamanan negara tersebut. Dukungan itu mencakup pengiriman personel militer, kepolisian, hingga penasihat keamanan. Kabar mengenai kematian aparat Kuba sebenarnya telah beredar luas di dalam negeri sejak Sabtu, sebelum akhirnya dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah.
Presiden AS Donald Trump turut menyinggung jatuhnya korban dari pihak Kuba. Saat berbicara kepada awak media di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan dari Florida ke Washington, Trump menyebut bahwa operasi tersebut menimbulkan korban di kubu lawan.
“Banyak personel Kuba kehilangan nyawa dalam operasi itu. Di sisi kami, tidak ada korban,” kata Trump, sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency, Senin (05/01/2026).
Operasi militer AS tersebut dilaporkan berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya. Washington menuding Maduro terlibat dalam jaringan narkoterorisme internasional dan menyatakan penangkapan dilakukan untuk proses hukum lebih lanjut. Pemerintah Venezuela sendiri mengakui adanya korban jiwa akibat serangan tersebut, namun enggan menyampaikan jumlah pasti.
Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Kuba menetapkan masa berkabung nasional selama dua hari. Presiden Miguel Díaz-Canel bersama mantan Presiden Raúl Castro menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para personel yang gugur.
Dalam pernyataan resminya, Havana menegaskan bahwa aparat yang tewas dianggap gugur dalam tugas negara. Pemerintah menggambarkan mereka sebagai personel yang bertahan hingga akhir dalam menghadapi serangan langsung maupun bombardir fasilitas.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali menyoroti peran Kuba di Venezuela. Ia menuding bahwa aparat Kuba memiliki pengaruh besar dalam sistem keamanan internal pemerintahan Maduro dan berperan penting dalam mempertahankan kekuasaan pemimpin Venezuela tersebut.
Pernyataan Rubio memperkuat narasi Washington mengenai keterlibatan aktif Kuba dalam konflik internal Venezuela, yang kini berpotensi memperlebar ketegangan geopolitik di kawasan. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan