ISLAMABAD – Bentrokan berskala besar pecah di Provinsi Balochistan setelah pasukan keamanan Pakistan melancarkan operasi balasan terhadap rangkaian serangan separatis. Dalam pertempuran yang berlangsung hampir 40 jam, aparat menewaskan sedikitnya 145 militan.
Dilansir Reuters, Senin (02/02/2025), operasi tersebut dilakukan menyusul serangan bersenjata dan bom terkoordinasi yang mengguncang sejumlah wilayah di Balochistan pada akhir pekan dan menewaskan hampir 50 orang.
Balochistan, wilayah kaya sumber daya yang berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan, kembali menjadi pusat konflik paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok separatis meningkatkan intensitas serangan terhadap pasukan keamanan, fasilitas umum, dan warga sipil.
Pada Sabtu (31/01/2026), para penyerang menyusup ke ruang-ruang publik dengan menyamar sebagai warga biasa. Rumah sakit, sekolah, bank, hingga pasar menjadi sasaran sebelum tembakan dilepaskan secara membabi buta.
Pemerintah Pakistan menyebut pola serangan tersebut sebagai upaya sengaja menciptakan teror di tengah masyarakat. “Para pelaku masuk ke area sipil dengan menyamar, lalu menyerang orang-orang yang sama sekali tidak terlibat,” ujar Wakil Menteri Dalam Negeri Pakistan, Talal Chaudhry.
Ia menuding kelompok separatis menjadikan warga sipil sebagai pelindung dalam setiap aksinya. “Mereka menggunakan masyarakat sebagai tameng manusia. Ini bukan perlawanan, ini kejahatan,” tegasnya.
Kelompok separatis terlarang Tentara Pembebasan Baloch (BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam pernyataan daring, BLA menyebut operasi itu sebagai rangkaian serangan terkoordinasi bertajuk “Herof” atau “Badai Hitam”.
Serangan hampir serentak terjadi di Quetta ibu kota provinsi serta wilayah Gwadar, Mastung, dan Noshki. Para pelaku menembaki pos keamanan, mencoba melakukan bom bunuh diri, hingga memblokir ruas jalan utama.
Jejak kehancuran tampak jelas di Quetta. Kendaraan hangus terbakar di halaman kantor polisi, dinding bangunan berlubang peluru, dan garis polisi membentang di jalanan.
Kepala Menteri Balochistan, Sarfraz Bugti, melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya 17 personel penegak hukum dan 31 warga sipil.
Operasi balasan kemudian digelar secara besar-besaran oleh militer, kepolisian, dan unit antiteror. Militer Pakistan menyatakan 92 militan tewas dalam pertempuran pada Sabtu (31/1), sementara 41 lainnya dilumpuhkan dalam operasi pendahuluan sehari sebelumnya.
Bugti menyebut aparat sebenarnya telah mendeteksi tanda-tanda serangan sejak awal. “Informasi intelijen menunjukkan adanya rencana serangan. Karena itu, kami sudah memulai operasi lebih dulu,” kata Bugti.
Di sisi lain, BLA mengklaim telah menewaskan 84 personel keamanan dan menangkap 18 lainnya. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan pihak militan belum memberikan bukti pendukung.
Hingga kini, situasi keamanan di Balochistan masih diperketat, sementara pemerintah Pakistan menegaskan akan terus menekan kelompok separatis bersenjata. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan