ISLAMABAD — Ketegangan lama di perbatasan Pakistan dan Afghanistan kembali memanas. Sebanyak 58 tentara Pakistan dilaporkan tewas dalam bentrokan bersenjata dengan pasukan Afghanistan sejak Sabtu (11/10/2025) malam. Insiden itu menandai satu lagi babak berdarah dalam hubungan dua negara yang sama-sama mengaku memperjuangkan keamanan dan kedaulatan, namun terus terjerumus ke dalam siklus saling serang tanpa akhir.
Mengutip Hindustan Times, Minggu (12/10/2025), bentrokan memicu eskalasi besar yang membuat Pakistan menutup seluruh pos perbatasan dengan Afghanistan. Langkah ini bukan hal baru. Setiap kali peluru ditembakkan, pintu diplomasi justru dikunci rapat, meninggalkan rakyat di kedua sisi yang harus menanggung akibat dari ketegangan politik yang tak pernah diselesaikan secara damai.
Pemerintah Taliban mengklaim serangan ke pos militer Pakistan merupakan aksi balasan terhadap dugaan pelanggaran wilayah dan serangan udara yang dilakukan Islamabad di wilayah Afghanistan, termasuk di Kabul dan sebuah pasar di bagian timur negara itu.
“Serangan ini merupakan bentuk pembalasan atas pelanggaran yang terus berulang terhadap wilayah dan kedaulatan kami,” ujar juru bicara pemerintah Taliban.
Namun, di balik narasi “pembalasan” itu, tersimpan persoalan yang lebih dalam: kegagalan kedua negara membangun kepercayaan dan mekanisme pengawasan perbatasan yang jelas sejak kejatuhan Kabul pada 2021. Batas Durand Line garis buatan kolonial Inggris yang memisahkan keduanya masih menjadi sumber pertikaian, diperparah oleh aktivitas kelompok bersenjata lintas batas yang tak pernah sepenuhnya dikendalikan.
Dalam operasi tersebut, pasukan Afghanistan mengklaim berhasil menduduki 25 pos militer milik Pakistan. Selain 58 tentara tewas, sekitar 30 lainnya dilaporkan terluka. Jika klaim ini benar, maka serangan tersebut menjadi salah satu serangan paling besar sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul.
Ironisnya, kedua negara yang selama ini saling menuduh melindungi kelompok ekstrem justru sama-sama menggunakan retorika “pembelaan diri” untuk membenarkan aksi kekerasan mereka. Taliban menyebut serangan itu sebagai “pertahanan kedaulatan”, sementara Islamabad menegaskan sedang melindungi keamanan nasional dari kelompok militan yang bermarkas di Afghanistan.
Dalam praktiknya, “keamanan nasional” berubah menjadi pembenaran bagi kekerasan baru. Tidak ada yang benar-benar menang dalam pertempuran di garis batas itu, kecuali mereka yang diuntungkan oleh ketidakstabilan permanen di kawasan Asia Selatan.
Hingga kini, pemerintah Pakistan belum mengonfirmasi jumlah pasti korban tewas dan luka, namun mengumumkan penutupan total seluruh perlintasan di perbatasan. Tindakan itu membuat ribuan warga sipil yang menggantungkan hidup pada aktivitas lintas batas terjebak di tengah ketegangan.
Ketegangan meningkat tajam setelah Afghanistan menuduh Pakistan melancarkan serangan udara ke wilayah mereka. Serangan itu disebut telah menewaskan warga sipil di dekat Kabul. Pakistan sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut sebuah keheningan diplomatik yang justru memperkuat persepsi bahwa kedua negara lebih sibuk menyusun strategi militer ketimbang mencari solusi damai.
Kedua negara yang berbagi sejarah, agama, dan budaya ini seolah lupa bahwa konflik di perbatasan tidak hanya memakan nyawa tentara, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan mereka. Sementara Islamabad menuduh Kabul menjadi tempat persembunyian kelompok teroris Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), Taliban balik menuduh Islamabad mengintervensi urusan dalam negeri Afghanistan melalui operasi udara.
Konflik ini memperlihatkan absurditas politik regional: dua pemerintahan yang mengaku memperjuangkan kedaulatan justru saling melanggar batas dan menumpahkan darah di wilayah yang sama-sama mereka sebut “tanah Islam.”
Ketiadaan forum efektif untuk menyelesaikan sengketa Pakistan–Afghanistan membuat setiap bentrokan menjadi bom waktu. Dewan Keamanan PBB, yang selama ini hanya menyerukan “penahanan diri”, gagal mendorong solusi konkret. Sementara negara-negara tetangga seperti Iran, India, dan Tiongkok justru memanfaatkan ketegangan ini untuk memperluas pengaruh masing-masing.
Bentrokan terbaru ini mempertegas satu hal: Asia Selatan tidak kekurangan peluru, tetapi kekurangan diplomasi. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan