SYDNEY — Aparat keamanan Australia terus menguliti jejak pergerakan dua pelaku penembakan brutal di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan 15 orang dan melukai sedikitnya 40 lainnya. Fakta terbaru mengungkap bahwa aksi teror yang mengguncang publik internasional itu bukanlah peristiwa spontan, melainkan didahului serangkaian perjalanan dan aktivitas yang kini menjadi fokus penyelidikan aparat lintas negara.
Dua pelaku diketahui merupakan ayah dan anak, Sajid Akram dan Naveed Akram. Keduanya disebut pihak berwenang Australia sebagai pelaku teror bermotif anti-Semit. Penembakan terjadi di tengah kerumunan warga yang sedang merayakan Hanukkah, salah satu hari besar umat Yahudi.
Penyelidikan awal menunjukkan, sebelum melancarkan aksinya pada Minggu 14 Desember 2025, Sajid dan Naveed sempat berpindah-pindah tempat tinggal. Keduanya diketahui berasal dari wilayah Bonnyrigg, pinggiran kota Sydney, dengan jarak sekitar satu jam perjalanan dari Pantai Bondi. Namun, beberapa pekan sebelum penembakan, keduanya justru memilih tinggal di sebuah Airbnb di kawasan Campsie, yang jaraknya hanya sekitar 15 hingga 20 menit dari lokasi kejadian.
Sejumlah kesaksian menyebutkan, selama tinggal di lingkungan tersebut, Sajid dan Naveed tidak menunjukkan perilaku mencurigakan. Mereka berbaur layaknya warga pada umumnya, sehingga keberadaan mereka tidak menimbulkan kecurigaan berarti di tengah masyarakat.
Usai insiden berdarah itu, polisi Australia sempat mengamankan tiga orang di rumah Bonnyrigg untuk dimintai keterangan. Ketiganya kini telah dibebaskan setelah pemeriksaan awal. Salah satu dari mereka, yang diidentifikasi sebagai istri sekaligus ibu pelaku, menyebut Sajid dan Naveed sempat berpamitan dengan alasan hendak memancing, sebagaimana dikutip BBC.
Namun, temuan paling krusial justru mengarah ke luar negeri. Kedua pelaku diketahui sempat melakukan perjalanan ke Filipina sebelum kembali ke Australia. Media lokal Australia melaporkan, berdasarkan sumber tertentu, perjalanan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas yang disebut sebagai “latihan gaya militer”.
Juru bicara imigrasi Filipina Dana Sandoval membenarkan kunjungan tersebut. Ia menyebut Sajid dan Naveed masuk ke Filipina pada 1 November dan meninggalkan negara itu pada 28 November, dikutip BBC. Sajid tercatat menggunakan paspor India, sementara Naveed masuk menggunakan paspor Australia. Tujuan terakhir mereka adalah Kota Davao, sebelum akhirnya kembali ke Sydney.
Davao berada di wilayah Mindanao, daerah yang selama ini dikenal sebagai lokasi operasi sejumlah kelompok militan Islam. Meski demikian, Angkatan Bersenjata Filipina hingga kini belum dapat mengonfirmasi kabar terkait pelatihan militer yang dikaitkan dengan kedua pelaku.
Penyelidikan bersama antara kepolisian Australia dan Filipina masih terus berlangsung.
“Alasan mereka pergi, tujuan, dan di mana mereka tinggal selama di sana, masih dalam penyelidikan hingga saat ini,” kata komisaris polisi Mal Lanyon, Selasa (17/12/2025).
Kasus ini memperlihatkan betapa kompleksnya jaringan dan pergerakan pelaku teror modern, sekaligus menjadi peringatan serius bagi otoritas keamanan global. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan