PONTIANAK – Aktivitas layanan transportasi berbasis aplikasi di Kota Pontianak mengalami perlambatan signifikan selama libur Natal hingga menjelang pergantian Tahun Baru 2026. Penurunan permintaan paling terasa pada layanan ojek online (ojol) mobil, yang biasanya ramai di akhir tahun. Kondisi ini membuat banyak pengemudi harus bertahan dengan pendapatan yang jauh di bawah rata-rata harian normal.
Situasi tersebut diakui sejumlah pengemudi ojol yang beroperasi di Pontianak. Salah satunya Hendra, pengemudi ojol mobil yang mengungkapkan bahwa sejak Hari Natal, jumlah order penumpang terus menurun dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan hingga akhir pekan.
Menurut Hendra, kondisi sepi tidak hanya dialaminya secara pribadi, melainkan dirasakan hampir seluruh pengemudi yang tergabung dalam komunitas ojol. Informasi yang beredar di grup percakapan para driver menunjukkan pola yang sama, yakni minimnya permintaan perjalanan, khususnya rute dalam kota.
“Biasanya libur panjang justru ramai, tapi kali ini berbeda. Sejak Natal, aplikasi lebih sering sepi notifikasi,” kata Hendra saat ditemui, Minggu (28/12/2025).
Ia menuturkan, penurunan juga terlihat di sejumlah titik yang selama ini menjadi tujuan favorit penumpang, seperti pusat perbelanjaan dan kawasan hiburan. Mega Mall Pontianak, misalnya, yang kerap dipadati pengunjung, justru relatif lengang dari pesanan ojol mobil.
Dari sisi pendapatan, kondisi ini cukup memukul penghasilan harian pengemudi. Jika pada hari normal Hendra mampu mengantongi Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari, selama libur Natal dan jelang Tahun Baru pendapatannya merosot drastis. “Sekarang paling tinggi hanya sekitar Rp140 ribu. Bahkan ada hari yang cuma dapat Rp100 ribu,” ujarnya.
Ia menduga, salah satu faktor utama sepinya order adalah banyaknya warga yang memilih bepergian ke luar daerah atau mudik lebih awal. Akibatnya, pergerakan penumpang di dalam kota menjadi sangat terbatas dan tidak merata sepanjang hari.
Sementara untuk perjalanan jarak jauh, Hendra menjelaskan bahwa order melalui aplikasi nyaris tidak ada. Perjalanan luar kota lebih sering diperoleh melalui sistem carter dengan kesepakatan langsung. Tarif carter dalam kota umumnya berada di kisaran Rp300 ribu per hari, sedangkan rute ke luar kota dapat mencapai Rp500 ribu atau lebih, tergantung jarak.
“Kalau ke Jongkat masih sering, tapi Singkawang biasanya lewat carter. Kalau lewat aplikasi harganya cukup tinggi, jadi sering dinegosiasikan,” ucapnya.
Meski situasi belum membaik, Hendra mengaku tetap berusaha bertahan dan bersyukur masih memperoleh penumpang. Ia berharap aktivitas masyarakat kembali meningkat setelah libur panjang berakhir, sehingga roda ekonomi para pengemudi ojol bisa kembali bergerak. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan