ISTANBUL – Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menilai langkah Israel yang mengakui Somaliland sebagai negara merdeka sebagai keputusan yang tidak lazim dan sarat risiko geopolitik. Pernyataan itu disampaikan Mohamud dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera dari Istanbul, Turki, pada Kamis (01/01/2026).
Mohamud menegaskan bahwa klaim pemisahan diri Somaliland telah berlangsung lebih dari tiga dekade tanpa pengakuan internasional. Karena itu, keputusan Israel dinilai sebagai bentuk campur tangan yang berpotensi memicu dampak serius, tidak hanya bagi Somalia, tetapi juga bagi warga Palestina di Gaza serta stabilitas kawasan Tanduk Afrika.
Somaliland merupakan wilayah separatis Republik Federal Somalia yang memproklamasikan kemerdekaan sejak 1991. Pemerintah Somalia selama ini berupaya menyatukan kembali wilayah tersebut melalui pendekatan damai.
Menurut Mohamud, pengakuan Israel tidak bisa dilihat sebagai langkah diplomatik biasa. Ia menilai keputusan itu berkaitan dengan kepentingan strategis Israel yang berisiko tinggi. Pemerintah Somalia, kata dia, memiliki informasi intelijen yang mengindikasikan adanya kesepakatan tertentu antara Israel dan Somaliland, termasuk rencana pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer di pesisir Teluk Aden, serta keterlibatan dalam Perjanjian Abraham.
Israel menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui Somaliland pada pekan lalu, sebuah langkah yang kemudian menuai kecaman luas. Mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB menolak keputusan tersebut dalam pertemuan darurat di New York pada awal pekan ini, termasuk Indonesia yang secara tegas menyatakan penolakan.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya anggota Dewan Keamanan PBB yang tidak mengecam secara terbuka, meski tetap menegaskan dukungan terhadap kedaulatan Somalia. Menanggapi hal itu, Mohamud menilai posisi Washington sudah cukup jelas.
Presiden Somalia juga mengingatkan bahwa pengakuan Israel dapat dimanfaatkan kelompok bersenjata al-Shabab untuk memperkuat propaganda anti-Israel. Namun, ia menegaskan kelompok tersebut tidak memiliki kepentingan nyata terhadap kedaulatan Somalia.
Mohamud berada di Turki pada Selasa (30/12/2025) dan menggelar konferensi pers bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya sepakat bahwa pengakuan Israel atas Somaliland berpotensi mendestabilisasi Tanduk Afrika di tengah situasi geopolitik yang rapuh. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan