Wisata Alam Salju Disorot Usai Bocah Tenggelam

PALANGKA RAYA — Tragedi tenggelamnya Angel Juliana Tan (12) di Objek Wisata Alam Salju saat libur Tahun Baru masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis, 1 Januari 2026, dan kini memunculkan sorotan tajam terhadap standar keselamatan di kawasan wisata tersebut.

Angel diketahui tengah berenang bersama keluarga sebelum tiba-tiba menghilang dari pengawasan. Upaya pencarian dilakukan secara manual oleh keluarga, sementara korban baru berhasil ditemukan sekitar satu jam kemudian di dalam danau bekas galian yang berada di area wisata.

Saat ditemukan, Angel diduga telah berada di dalam air hampir dua jam. Kondisi tersebut memperkecil peluang penyelamatan dan berujung pada meninggalnya bocah berusia 12 tahun itu.

Keluarga menilai insiden tersebut tidak lepas dari minimnya sistem pengamanan di lokasi wisata. Danau yang memiliki kedalaman berbahaya itu disebut hanya dilengkapi pembatas berupa tali, tanpa penghalang fisik yang memadai.

Salah satu anggota keluarga korban, Hamlan, menuturkan bahwa batas aman seharusnya dibuat lebih tegas agar tidak mudah dilewati, terutama oleh anak-anak.

“Kalau hanya tali, sangat mudah terlewati. Menurut kami, seharusnya ada jaring atau pengaman permanen supaya anak-anak tidak masuk ke area berbahaya,” ucapnya saat ditemui Sabtu, (03/01/2026).

Ia juga mengungkapkan kekecewaan atas respons awal petugas di lokasi saat Angel dinyatakan hilang. Menurutnya, tidak ada petugas yang langsung melakukan pencarian di air.

“Yang turun ke danau itu hanya keluarga. Petugas tidak ada yang menyelam, mereka hanya memanggil nama korban lewat pengeras suara,” katanya.

Angel akhirnya ditemukan oleh sang paman sekitar lima meter melewati batas area aman. Hamlan menyebut, kondisi dasar danau berlumpur dan cukup dalam, sehingga menyulitkan proses pencarian.

“Posisinya sudah melewati batas aman, dan bagian bawahnya lumpur tebal. Itu yang membuat pencarian jadi sangat berat,” ujarnya.

Selain meninggalkan trauma mendalam, peristiwa tersebut juga menimbulkan beban finansial bagi keluarga. Sedikitnya lebih dari Rp20 juta dikeluarkan untuk biaya pemakaman dan keperluan lainnya.

Pihak pengelola objek wisata disebut sempat mendatangi rumah duka dan memberikan bantuan berupa sembako, serta berjanji akan kembali menemui keluarga usai prosesi pemakaman.

“Biaya peti saja sekitar Rp4 juta, formalin Rp2 juta, pemakaman Rp3 juta, belum termasuk kebutuhan lainnya,” ungkap Hamlan.

Keluarga menyatakan akan bermusyawarah untuk menentukan langkah lanjutan terkait pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

Sementara itu, Merisa, ibu korban, mengaku masih sangat terpukul dan berharap tidak ada lagi korban jiwa di lokasi yang sama. Ia meminta agar operasional objek wisata tersebut dihentikan.

“Kalau bisa ditutup saja. Cukup anak saya yang jadi korban. Tempatnya berbahaya dan pengamanannya tidak memadai. Saya benar-benar kecewa,” tuturnya dengan suara bergetar.

Hingga kini, tragedi tersebut masih menjadi perhatian publik dan memicu desakan agar pengelola wisata meningkatkan standar keselamatan demi mencegah kejadian serupa terulang. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com