BARITO KUALA – Banjir yang belum menunjukkan tanda-tanda surut di Kabupaten Barito Kuala mulai berdampak serius pada dunia pendidikan. Aktivitas belajar mengajar nyaris lumpuh di sejumlah kecamatan setelah puluhan sekolah terpaksa menghentikan pembelajaran tatap muka dan beralih ke sistem Belajar Dari Rumah (BDR).
Kecamatan Jejangkit dan Mandastana menjadi wilayah dengan jumlah sekolah terdampak terbanyak. Genangan air tidak hanya merendam lingkungan permukiman, tetapi juga memutus akses menuju sekolah-sekolah negeri dan swasta.
Salah satu sekolah yang terdampak cukup parah adalah SMP Negeri 4 Mandastana yang berada di jalur poros penghubung menuju Kecamatan Jejangkit. Sekolah ini terpaksa menghentikan kegiatan belajar tatap muka lantaran halaman sekolah dan akses jalan terendam banjir.
Kepala SMPN 4 Mandastana, Suprianto, mengungkapkan bahwa banjir telah berlangsung sekitar satu pekan dan mengganggu proses belajar sejak awal masuk semester. “Setelah libur semester, siswa hanya sempat belajar di sekolah selama satu hari. Sehari berikutnya langsung diberlakukan pembelajaran dari rumah sesuai edaran Dinas Pendidikan,” ujarnya, Rabu (07/01/2026).
Meski siswa belajar secara daring, ia menegaskan bahwa seluruh guru tetap diminta hadir ke sekolah untuk memastikan proses pembelajaran jarak jauh tetap berjalan. “Guru tetap masuk untuk memantau pelaksanaan pembelajaran daring dan menyiapkan materi agar kegiatan belajar siswa tidak terhenti total,” katanya.
Suprianto menjelaskan, genangan air di lingkungan sekolah mencapai sekitar 50 sentimeter di area halaman. Meski ruang kelas masih relatif aman, akses menuju sekolah dan rumah siswa sudah tidak bisa dilalui dengan normal. “Air mengepung sekolah. Bahkan di luar area sekolah ketinggian air justru lebih dalam, sehingga akses siswa benar-benar terhambat,” jelasnya.
Ia menambahkan, situasi banjir kali ini mengingatkan pada kejadian serupa yang terjadi beberapa tahun lalu. Namun, hingga kini pihak sekolah masih berharap kondisi segera membaik. “Kami ingin segera kembali ke pembelajaran tatap muka. Tapi kalau air terus naik, BDR kemungkinan akan berlangsung lama, apalagi banjir ini juga dipengaruhi kiriman air dari daerah tetangga,” tuturnya.
SMPN 4 Mandastana sendiri memiliki sekitar 80 siswa dari kelas VII hingga IX yang saat ini seluruhnya mengikuti pembelajaran dari rumah.
Berdasarkan data dashboard satuan pendidikan, tercatat sedikitnya 89 sekolah di Kabupaten Barito Kuala terdampak banjir. Rinciannya meliputi 26 PAUD, 53 SD, 7 SMP, serta 3 SMA/SMK.
Selain Kecamatan Mandastana dan Jejangkit, pembelajaran daring juga diterapkan di Kecamatan Tabukan, Bakumpai, dan Kuripan. Sejumlah sekolah tingkat SD, SMP, TK, dan KB di wilayah tersebut terpaksa menghentikan aktivitas tatap muka demi keselamatan peserta didik.
Kondisi ini menambah panjang daftar gangguan pendidikan akibat bencana banjir yang melanda Barito Kuala dalam beberapa tahun terakhir. [] Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan