KOTAWARINGIN TIMUR – Aliran Sungai Mentaya yang biasanya tenang mendadak berubah riuh. Sorak-sorai warga memecah udara saat puluhan tim adu kekuatan dalam lomba Besei Kambe, salah satu atraksi budaya paling ditunggu dalam rangkaian Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) 2026.
Sejak pagi hingga siang, dermaga di kawasan Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, dipadati penonton. Mereka datang dari berbagai penjuru, ingin menyaksikan langsung olahraga tradisional khas Dayak Kalimantan Tengah yang dikenal menguras tenaga dan strategi.
Koordinator lomba, Falwi, menilai antusiasme masyarakat tahun ini jauh melampaui penyelenggaraan sebelumnya. Baik jumlah peserta maupun penonton menunjukkan peningkatan signifikan.
“Respons masyarakat sangat luar biasa. Peserta penuh, penonton juga membludak. Ini menandakan besei kambe masih punya daya tarik kuat sebagai identitas budaya daerah,” ungkapnya di sela perlombaan, Selasa (13/01/2026).
Sebanyak 20 tim ambil bagian, terdiri dari 14 tim putra dan 6 tim putri yang mewakili sejumlah kecamatan di Kotim. Mereka saling beradu kekuatan dalam satu perahu kecil, dengan format yang tidak lazim: dua orang duduk saling membelakangi dan mendayung ke arah berlawanan.
Tak sekadar adu teknik mendayung, lomba ini menuntut stamina, kekompakan, dan ketahanan fisik ekstra. Banyak penonton menyebutnya sebagai “tarik tambang di atas air”, karena intensitasnya yang tinggi dan minim ruang untuk kesalahan.
Ajang ini sekaligus menjadi panggung seleksi atlet yang akan dipersiapkan mewakili Kotim pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Namun, status juara belum otomatis mengantarkan tim ke level provinsi.
“Kami tidak hanya melihat hasil lomba. Para juara masih akan menjalani pemusatan latihan. Yang paling siap secara fisik dan mental itulah yang kami bawa ke FBIM,” jelas Falwi.
Langkah seleksi ketat tersebut diambil sebagai upaya mengembalikan kejayaan Kotim di cabang besei kambe, yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai mengalami penurunan prestasi di tingkat provinsi.
“Target realistis kami nanti minimal bisa kembali naik podium. Kotim pernah punya tradisi juara, dan itu ingin kami hidupkan lagi,” tambahnya.
Dari sisi pengamanan, BPBD Kotim menurunkan lima personel lengkap dengan satu unit speedboat. Pengawasan dilakukan bersama Ditpolairud, Basarnas, KSOP, dan PMI untuk mengantisipasi risiko kecelakaan air.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, memastikan seluruh rangkaian lomba perairan berlangsung aman.
“Personel kami bersiaga penuh di sekitar arena. Fokus kami pencegahan dan respons cepat jika terjadi hal darurat,” katanya.
Hingga seluruh lomba selesai digelar, tidak ada insiden berarti yang dilaporkan. Sungai Mentaya pun kembali tenang, meninggalkan kesan kuat bahwa tradisi lokal masih menjadi denyut utama kehidupan budaya masyarakat Kotim. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan