TANJUNG SELOR – Upaya membongkar jaringan narkoba kelas kakap di Kalimantan Utara masih menghadapi tembok tebal. Meski aparat telah mengantongi sejumlah nama yang diduga sebagai bandar besar, praktik di lapangan menunjukkan penindakan kerap berhenti pada level kurir.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara, Agus Surya Dewi, mengakui bahwa membongkar jaringan inti peredaran narkoba bukan perkara mudah. Hal itu disampaikannya pada Jumat (16/01/2026).
“Kami sebenarnya sudah mendengar dan mengetahui adanya bandar-bandar besar, bahkan nama-namanya sudah muncul. Namun mereka sangat rapi dalam menghilangkan jejak,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, pelaku yang berhasil diamankan umumnya merupakan bagian dari jaringan yang sudah terputus. Kondisi tersebut membuat aparat kesulitan menelusuri siapa pengendali utama peredaran narkoba di wilayah Kalimantan Utara. “Yang kami tangkap biasanya hanya kurir atau pelaku lapangan. Mereka tidak mau menyampaikan siapa sumber barangnya,” katanya.
Menurut Agus, sikap bungkam para pelaku bukan tanpa alasan. Ancaman terhadap keselamatan keluarga menjadi faktor dominan yang membuat tersangka memilih diam meski telah berada dalam tahanan. “Ada tekanan dan ancaman terhadap keluarga mereka. Itu yang membuat para pelaku takut berbicara, karena keselamatan keluarganya menjadi taruhan,” ungkapnya.
Selain ancaman, pola distribusi narkoba juga semakin sulit dilacak. Agus menyebut, jaringan narkoba kerap menggunakan sistem penitipan barang tanpa serah terima langsung, sehingga hubungan antara kurir dan bandar menjadi terputus. “Kadang barang tidak diserahkan langsung, tapi ditaruh di suatu tempat. Dengan pola seperti ini, jaringan menjadi terputus dan pembuktian terhadap bandar besar sangat sulit,” jelasnya.
Ia menegaskan, setiap pengungkapan kasus sejatinya selalu diarahkan untuk mengungkap bandar besar. Namun keterbatasan barang bukti serta minimnya keterangan dari pelaku membuat aparat sering kali hanya mampu menjerat pelaku di level bawah.
Untuk memperkuat pemberantasan narkoba, BNNP Kalimantan Utara pada tahun 2026 meningkatkan sinergi dengan berbagai instansi, mulai dari BIN Daerah, Kepolisian, TNI, hingga Bea Cukai. “Kami terus memperkuat kolaborasi lintas lembaga. Meski tidak semua operasi langsung membuahkan hasil besar, upaya ini harus terus dijalankan,” tegas Agus.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pengamanan wilayah perbatasan sebagai pintu masuk utama narkoba ke Kalimantan Utara. “Penguatan pos perbatasan dan peningkatan kemampuan personel menjadi kunci untuk menekan peredaran narkoba,” ujarnya.
Berdasarkan data BNNP Kalimantan Utara, sebagian besar sabu yang beredar di wilayah ini berasal dari negara tetangga. Peredarannya tidak hanya menyasar Kalimantan Utara, tetapi juga mengalir ke sejumlah daerah lain hingga ke Sulawesi. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan