BONTANG – Kota Bontang kembali mencatat tren perceraian yang memprihatinkan. Hingga 14 Januari 2026, Pengadilan Agama (PA) Bontang telah menerima dan memproses sebanyak 39 perkara perceraian, terdiri dari gugatan cerai yang diajukan pihak istri maupun permohonan cerai talak dari pihak suami. “Jumlah ini memang baru awal tahun, tapi cukup signifikan jika dibandingkan periode sama tahun lalu,” ujar Noor Hasanudin, Kepala PA Bontang, Kamis (15/01/2026).
Menurut Noor, faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama pasangan suami istri memutuskan berpisah. Ketidakstabilan pendapatan, kehilangan pekerjaan, hingga ketidakmampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga kerap menimbulkan konflik yang berlarut-larut.
“Ketika pendapatan tidak stabil atau pekerjaan hilang, perselisihan kecil bisa memicu pertengkaran panjang. Akhirnya, rumah tangga yang seharusnya harmonis berakhir di pengadilan,” jelasnya.
Selain faktor ekonomi, kurangnya komunikasi dan komitmen dalam rumah tangga juga menjadi alasan dominan. Dalam beberapa kasus, konflik kecil yang tidak segera diselesaikan berkembang menjadi masalah besar yang sulit didamaikan. “Komunikasi yang buruk dan komitmen yang goyah sering memperparah masalah. Pasangan kadang merasa jalan terakhir adalah perceraian,” kata Noor.
PA Bontang menekankan bahwa upaya mediasi tetap menjadi prioritas sebelum perkara diputus. Setiap pasangan diwajibkan mengikuti proses ini dengan harapan dapat menemukan jalan damai dan mempertahankan keutuhan rumah tangga. “Kami selalu mendorong mediasi. Tapi bila konflik sudah berlangsung lama, mediasi pun sering tidak berhasil,” tambahnya.
Noor menekankan pentingnya pendidikan pranikah dan penguatan peran keluarga untuk menekan angka perceraian ke depan. Selain itu, keterlibatan pihak terkait dalam memberikan pendampingan bagi pasangan yang menghadapi masalah rumah tangga juga dinilai krusial. “Perceraian seharusnya menjadi pilihan terakhir. Pasangan perlu kesiapan mental, ekonomi, dan komunikasi yang baik agar rumah tangga bisa bertahan harmonis,” pungkas Noor.
Tren ini menjadi alarm bagi masyarakat Bontang, bahwa menjaga keharmonisan rumah tangga memerlukan kesadaran sejak awal, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan pendekatan preventif dan edukatif, diharapkan angka perceraian bisa ditekan dan kualitas rumah tangga di kota ini meningkat. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan