gambar ilustrasi

Belajar di Bawah Pohon Durian, Potret Anak Kampung Kutai Barat

KUTAI BARAT – Di Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, musim durian bukan hanya tentang panen buah yang ditunggu-tunggu. Bagi sebagian keluarga, musim ini juga menjadi ruang belajar kehidupan bagi anak-anak mereka. Di bawah rindangnya pohon durian, dua siswa sekolah dasar tampak menjalani rutinitas yang sarat makna, memadukan kewajiban sekolah dengan membantu orang tua.

Damianus Mondi dan Rafli Andreas, keduanya duduk di kelas V sekolah dasar, menjadi potret keseharian anak kampung yang tumbuh bersama alam. Sepulang sekolah, keduanya tak langsung bermain. Setelah berganti pakaian, mereka memilih menyusul orang tua ke kebun durian untuk ikut menjaga buah yang jatuh.

Aktivitas ini sudah berlangsung hampir tiga pekan terakhir, seiring ramainya musim durian. Kebun pun berubah menjadi ruang hidup yang dinamis tempat bekerja, belajar, sekaligus berinteraksi dalam keluarga. Bagi Damianus dan Rafli, keterlibatan di kebun bukanlah beban, melainkan kebiasaan yang telah tertanam sejak kecil.

“Biasanya setelah dari sekolah, kami bersiap lalu ke kebun menemani orang tua,” tutur Damianus, Sabtu (17/01/2026).

Menariknya, kegiatan menjaga durian tidak membuat proses belajar terhenti. Di sudut kebun, sebuah lebo kecil berdiri sederhana di bawah pohon durian. Di tempat itulah, kedua bocah ini membuka buku pelajaran, menulis, dan mengulang materi sekolah saat suasana kebun sedang sepi.

Belajar di alam terbuka memberi pengalaman berbeda bagi mereka. Tanpa meja dan papan tulis, suara angin dan dedaunan justru menjadi latar yang menenangkan. Rafli mengaku, belajar di kebun terasa lebih santai namun tetap serius.

“Kalau sudah sepi, kami buka buku sebentar sambil jaga durian,” ujarnya.

Selain pengalaman, ikut membantu orang tua juga memberi mereka tambahan uang jajan. Meski nilainya kecil, namun cukup memberi rasa bangga. Damianus bercerita, biasanya ia menerima uang saku seadanya, namun karena ikut menjaga kebun, orang tuanya memberi tambahan.

“Tidak banyak, tapi senang karena hasil ikut membantu,” katanya sambil tersenyum.

Bagi orang tua di Kampung Intu Lingau, kebun adalah ruang pendidikan nonformal. Di sana, anak-anak belajar arti tanggung jawab, kerja keras, dan kebersamaan tanpa harus meninggalkan bangku sekolah. Pendidikan formal tetap menjadi prioritas, sementara kebun menjadi tempat menanam nilai kehidupan.

Di bawah pohon durian itulah, cita-cita perlahan tumbuh. Damianus dan Rafli sama-sama berharap dapat terus sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik. Dari kampung kecil di Kutai Barat, kesederhanaan membingkai harapan besar. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com