gambar ilustrasi

62 Hotspot Muncul, Ancaman Karhutla Kembali Mengintai Kalbar

KUBU RAYA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali membayangi Kalimantan Barat seiring minimnya curah hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio mencatat peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau di berbagai wilayah, menandakan kondisi lingkungan yang semakin rentan terhadap kebakaran.

Berdasarkan pemantauan satelit hingga Sabtu (17/01/2026) pukul 16.00 WIB, sedikitnya 62 titik panas terdeteksi tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Kalbar. Kabupaten Kubu Raya menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 29 titik. Sementara itu, Kabupaten Mempawah tercatat memiliki 10 titik panas, disusul Kabupaten Landak dengan 8 titik.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa potensi Karhutla tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menyebar secara merata. Sejumlah wilayah lain seperti Sambas, Sanggau, Sintang, Melawi, hingga Kota Pontianak juga mulai menunjukkan kemunculan hotspot, meskipun sebagian besar masih berada pada kategori tingkat kepercayaan menengah.

Prakirawan BMKG Supadio, Septika, menyampaikan bahwa cuaca kering menjadi faktor dominan meningkatnya potensi kebakaran. Ia menjelaskan, curah hujan yang rendah membuat vegetasi dan lahan, terutama lahan gambut, menjadi sangat mudah terbakar.

“Dalam situasi seperti ini, keberadaan titik panas perlu disikapi serius. Bahkan satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi sudah cukup menjadi indikator awal kebakaran aktif di lapangan,” jelas Septika.

Ia menambahkan, salah satu hotspot di Kecamatan Sungai Kakap terpantau memiliki tingkat kepercayaan tinggi, sehingga berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas jika tidak segera ditangani.

BMKG menilai, awal tahun yang biasanya diharapkan menjadi periode transisi basah justru menunjukkan kecenderungan kering di sebagian besar wilayah Kalbar. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat mempercepat penyebaran api, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan gambut.

Menyikapi situasi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat agar menghentikan segala bentuk pembakaran lahan, baik untuk pembukaan kebun maupun aktivitas lainnya. Api kecil sekalipun berisiko sulit dikendalikan ketika angin bertiup kencang dan kelembapan udara rendah.

Kewaspadaan juga diminta terus ditingkatkan oleh pemerintah daerah, aparat terkait, serta masyarakat di wilayah rawan Karhutla. Langkah pencegahan dini dinilai menjadi kunci utama untuk menghindari kembali terjadinya bencana kabut asap yang dapat berdampak luas terhadap kesehatan, transportasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat Kalimantan Barat. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com