TEHERAN – Sejumlah negara Arab secara terbuka menyatakan penolakan terhadap rencana atau kemungkinan serangan militer Amerika Serikat ke Iran. Sikap ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika geopolitik Timur Tengah, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya sebagian negara Arab sempat memandang positif tekanan keras Washington terhadap Teheran.
Perubahan sikap tersebut dipicu oleh kekhawatiran akan meluasnya konflik regional jika Iran benar-benar diserang. Para pemimpin Arab menilai, eskalasi militer justru berpotensi menciptakan ketidakstabilan yang lebih besar dan mengancam kepentingan ekonomi serta keamanan kawasan.
Seorang pejabat senior negara Teluk yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa perang bukan solusi bagi persoalan Iran. “Serangan ke Iran bukan jalan keluar. Yang akan terjadi justru kekacauan baru yang dampaknya bisa dirasakan seluruh Timur Tengah,” ujarnya kepada media regional, Sabtu (17/01/2026).
Dalam dua tahun terakhir, negara-negara Arab menyaksikan meningkatnya agresi Israel di kawasan, mulai dari konflik berkepanjangan di Gaza, tekanan di Tepi Barat, hingga insiden militer lintas negara. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa serangan terhadap Iran hanya akan memperluas konflik dan memperparah ketegangan geopolitik.
Pengamat politik Timur Tengah menilai, negara-negara Arab kini melihat Iran dari sudut pandang yang berbeda. Iran dianggap tidak lagi berada pada posisi sekuat satu dekade lalu akibat sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, dan serangan terbatas yang melemahkan kemampuan militernya.
“Bagi negara Arab, Iran yang lemah justru lebih mudah dikendalikan melalui diplomasi daripada Iran yang runtuh akibat perang,” kata analis hubungan internasional Timur Tengah, Khaled Al-Hamdi.
Selain faktor keamanan, stabilitas ekonomi menjadi pertimbangan utama. Negara-negara Teluk sangat bergantung pada kelancaran ekspor minyak dan gas. Konflik besar yang melibatkan Iran dikhawatirkan akan mengganggu jalur pelayaran strategis, terutama Selat Hormuz.
“Jika Selat Hormuz terganggu, harga energi dunia bisa melonjak tajam. Dampaknya bukan hanya regional, tapi global,” ujar seorang diplomat Arab di Kairo.
Mesir juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Pemerintah Mesir menilai konflik besar dengan Iran berpotensi mengganggu stabilitas Laut Merah dan Terusan Suez, jalur vital perdagangan internasional.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, negara-negara Arab kini mendorong Amerika Serikat untuk mengedepankan jalur diplomasi dan dialog. Mereka menegaskan bahwa kepentingan kawasan adalah stabilitas jangka panjang, bukan perang terbuka yang berisiko menimbulkan krisis baru di Timur Tengah. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan