KOTAWARINGIN TIMUR – Suara pemikat burung walet yang dulu menjadi “musik pagi” di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, kini tak lagi sepadan dengan hasil panen. Di balik deretan gedung walet yang menjamur di wilayah ini, tersimpan kenyataan pahit: bisnis sarang walet yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi warga kini meredup drastis.
Samuda dikenal sebagai salah satu sentra walet di Kabupaten Kotawaringin Timur sejak dua dekade terakhir. Namun, banyak bangunan yang dulunya produktif kini justru kosong dan tak terawat. Burung walet seolah menghilang, meninggalkan pengusaha kecil dengan biaya perawatan yang tak lagi sebanding dengan pendapatan.
Pelaku usaha walet setempat, Andika Aridani, menyebut geliat budidaya walet mulai tumbuh pesat sejak 2005, bertepatan dengan meredupnya industri kayu di wilayah Sampit dan sekitarnya. Warga pun beralih ke usaha sarang walet yang kala itu dianggap sebagai ladang emas baru.
Namun kejayaan itu tak bertahan lama. Pandemi menjadi titik balik yang memperparah kondisi. “Sekarang kondisinya turun jauh. Hampir 90 persen gedung walet tidak dikelola dengan baik dan akhirnya tidak menghasilkan,” tutur Andika saat ditemui Senin (19/01/2026).
Ia mengungkapkan, masa keemasan bisnis sarang walet terjadi pada rentang 2013 hingga 2017. Saat itu, harga sarang walet bisa menembus angka fantastis. “Dulu satu kilogram bisa dihargai sampai Rp25 juta. Kalau panennya bagus, empat kilogram itu bisa tembus Rp100 juta,” kenangnya.
Bandingkan dengan kondisi saat ini. Harga sarang walet hanya berkisar Rp5–6 juta per kilogram, membuat banyak pelaku usaha tak lagi sanggup bertahan.
Menurut Andika, masalah utama bukan semata lingkungan, melainkan kesalahan pola budidaya. Banyak pengusaha baru tergiur keuntungan cepat tanpa memahami siklus hidup burung walet. “Banyak yang tidak sabar. Baru sebulan sudah dipanen, padahal walet masih bertelur. Kalau telurnya diambil, regenerasinya putus,” jelasnya.
Ia menerangkan, panen ideal dilakukan setiap tiga bulan, setelah burung walet bertelur, menetas, dan anakan mulai tumbuh. Dengan pola ini, populasi burung tetap berkelanjutan dan produksi sarang stabil. “Kalau siklusnya dijaga, burungnya terus ada dan sarangnya tidak putus. Ini yang sekarang banyak dilanggar,” katanya.
Selain panen yang keliru, minimnya perawatan gedung juga menjadi penyebab walet enggan bersarang. Gedung yang lembap dan kotor mengundang tikus, burung hantu, hingga kelelawar musuh alami walet. “Kalau gedung tidak dibersihkan, hanya mengandalkan suara pemikat, walet tidak akan betah. Begitu ada predator, mereka langsung pindah,” ungkapnya.
Padahal, menurutnya, perawatan rutin dan pemberian pakan tambahan tidak membutuhkan biaya besar. “Biaya pakan sebulan paling sekitar Rp1 juta. Faktor suara itu cuma 20 persen, sisanya lingkungan dan perawatan,” paparnya.
Andika menilai, secara ekologis wilayah Mentaya Hilir Selatan masih sangat ideal untuk budidaya walet. Kepadatan penduduk yang belum tinggi dan minim kebisingan menjadi keunggulan tersendiri. “Walet sangat sensitif terhadap getaran. Idealnya gedung berjarak 500 meter sampai satu kilometer dari sumber bising,” terangnya.
Ia pun berharap pemerintah daerah turun tangan melalui pelatihan dan pembinaan di tingkat desa, agar kesalahan budidaya tidak terus berulang. “Kalau dibina dengan benar, industri ini bisa bangkit lagi. Dampaknya besar, bukan hanya untuk pengusaha, tapi juga PAD daerah,” pungkasnya. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan