JAKARTA – Rekaman 13.647 langkah kaki yang terekam di smartwatch milik Kopilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan, akhirnya dipastikan bukan berasal dari pergerakan korban setelah kecelakaan pesawat di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Pesawat ATR 42-500 tersebut diketahui mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung pada Sabtu (17/01/2026). Beberapa hari setelah peristiwa itu, muncul informasi bahwa smartwatch Farhan masih aktif dan mencatat adanya pergerakan langkah kaki, sehingga memicu harapan keluarga korban.
Informasi tersebut pertama kali disampaikan pihak keluarga pada Senin (19/1/2026). Keluarga mengaku mengetahui adanya aktivitas smartwatch setelah ponsel milik Farhan ditemukan oleh tim SAR dan diserahkan kepada mereka.
Perwakilan keluarga Farhan, Pitri Keandedes Hasibuan, menyebut data tersebut sempat menimbulkan dugaan adanya pergerakan korban. “Kami mendapat informasi dari ponsel yang terhubung dengan smartwatch, terlihat masih ada catatan langkah sehingga kami berharap bisa menjadi petunjuk,” ujar Pitri saat dimintai keterangan pada Senin (19/01/2026).
Namun, Basarnas menegaskan bahwa temuan tersebut tidak dapat diartikan sebagai tanda-tanda kehidupan di lokasi kecelakaan. Ponsel Farhan ditemukan tim SAR di sekitar lokasi jatuhnya pesawat pada Selasa (20/01/2026), tanpa disertai adanya suara atau pergerakan manusia.
Staf Search Mission Coordinator (SMC) Basarnas, Arman, mengatakan tim pencari tidak mendapati indikasi korban masih hidup saat ponsel ditemukan. “Tim yang berada di atas dan di bawah tebing tidak mendengar suara minta tolong ataupun tanda aktivitas lain,” kata Arman dalam keterangannya pada Selasa (20/1/2026).
Arman menjelaskan, ponsel tersebut sempat diserahkan kepada pihak keluarga sebelum akhirnya diamankan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut oleh kepolisian. Ia mengakui adanya catatan aktivitas smartwatch, namun menegaskan data itu belum dapat disimpulkan sebagai pergerakan terbaru.
“Kami tidak bisa memastikan itu sebagai tanda kehidupan. Data tersebut perlu diperiksa lebih lanjut secara teknis,” ujarnya.
Kepastian mengenai asal-usul data langkah kaki disampaikan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M. Syafi’i usai rapat kerja bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (20/01/2026).
Syafi’i menegaskan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan data langkah kaki tersebut merupakan rekaman lama. “Setelah dibuka dan diverifikasi bersama Polda Sulawesi Selatan, diketahui bahwa data langkah itu terekam beberapa bulan lalu saat korban masih berada di Yogyakarta,” kata Syafi’i pada Selasa (20/01/2026).
Ia menyatakan keluarga korban telah menerima penjelasan tersebut. Meski demikian, Basarnas memahami harapan yang sempat muncul dari informasi aktivitas smartwatch itu.
“Kami memahami perasaan keluarga. Harapan itu manusiawi, tetapi fakta harus disampaikan sesuai hasil pemeriksaan,” ujarnya.
Syafi’i menambahkan, hingga Rabu (21/01/2026), operasi pencarian dan evakuasi masih terus dilanjutkan dengan mengerahkan pesawat dan helikopter, sambil menunggu kondisi cuaca di kawasan Gunung Bulusaraung membaik. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan