gambar ilustrasi

Sepanjang 2025, Dinkes Tarakan Temukan 103 Kasus Baru HIV

TARAKAN — Penyebaran kasus HIV/AIDS di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, masih menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian semua pihak. Hingga tahun 2025, jumlah kumulatif penderita HIV di Tarakan tercatat mencapai 1.010 orang sejak kasus pertama ditemukan pada 1997. Angka ini terungkap dalam kunjungan kerja Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, Kamis (22/01/2026).

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, SKM., M.Kes, menjelaskan bahwa meskipun secara angka temuan kasus baru HIV pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan situasi yang aman.

“Kasus HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat hanya yang berhasil kami jangkau, sementara yang belum terdeteksi kemungkinan masih jauh lebih banyak. Menurun belum tentu aman. Sepanjang 2025, sebanyak 13.617 orang menjalani pemeriksaan HIV. Dari jumlah tersebut, ditemukan 103 kasus reaktif, menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 118 kasus. Dari total kasus baru 2025, 9 orang dilaporkan meninggal dunia,” ujarnya, Kamis (22/01/2026).

Ia menambahkan, upaya deteksi dini HIV menghadapi tantangan tersendiri karena pemeriksaan bersifat sukarela dan setiap individu memiliki hak untuk menolak tes. Kondisi ini menyebabkan banyak penderita tidak terdeteksi selama belum mengalami gangguan kesehatan serius.

“Persoalannya dalam mendeteksi HIV, setiap orang punya hak untuk menolak di tes. Jadi, kondisi bisa membuat penderita terhindar dari pemeriksaan. Kecuali mereka sudah sakit dan memeriksakan kesehatan di faskes itu baru terdeteksi. Selagi dia tidak berobat dan masih sehat odha akan sulit terditeksi,” sambungnya.

Rinny memaparkan, mayoritas penderita HIV di Tarakan berada pada kelompok usia produktif, yakni 20 hingga 39 tahun. Namun demikian, kasus juga ditemukan pada kelompok usia remaja 14–19 tahun hingga lanjut usia di atas 60 tahun. Dari sisi jenis kelamin, penderita HIV masih didominasi oleh laki-laki.

“Kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) masih menjadi penyumbang tertinggi dengan 31 kasus, disusul penderita Tuberkulosis (TB) sebanyak 17 kasus, serta pelanggan pekerja seks sebanyak 10 kasus,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, stigma sosial masih menjadi tantangan besar dalam penanganan HIV/AIDS. Dari 103 kasus baru yang ditemukan sepanjang 2025, hanya 72 orang yang tercatat rutin menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV). Sementara itu, sebanyak 20 orang lainnya dilaporkan hilang kontak atau lost to follow-up.

“Banyak pasien yang belum siap membuka statusnya, bahkan kepada keluarga sendiri. Kami tidak bisa memaksakan karena itu hak pasien, namun edukasi terus kami lakukan melalui konselor,” urainya.

Selain itu, Dinkes Tarakan juga memetakan sejumlah lokasi yang diduga menjadi titik rawan penyebaran HIV. Tempat hiburan malam, panti pijat, dan hotel masih menjadi lokasi konvensional penyebaran. Tak hanya itu, tempat kebugaran atau gym juga menjadi perhatian khusus.

“Adapun terkait titik spot saat ini adalah lokasi penyebaran konvensional yang merupakan spot penyebaran seperti tempat hiburan malam (THM), panti pijat, dan hotel. Selain itu, kami juga memberikan perhatian khusus pada tempat kebugaran (gym). Lokasi ini diduga menjadi salah satu titik berkumpulnya komunitas LSL yang masuk dalam kelompok risiko tinggi,” pungkasnya. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com