Hilang Dua Pekan, Santri Korban Pencabulan Bangkalan Diduga Dibawa Paksa

JAWA TIMUR — Misteri hilangnya santri korban pencabulan di Pondok Pesantren Nurul Karomah, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, kian mengundang tanda tanya. Korban dilaporkan menghilang lebih dari dua pekan lalu, tak lama setelah keluarga melaporkan terduga pelaku kedua berinisial S ke Polda Jawa Timur.

Korban sebelumnya diketahui menjadi korban pencabulan yang diduga dilakukan oleh UF, putra pengasuh pondok pesantren, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Dalam proses penyelidikan, terungkap dugaan keterlibatan S, adik kandung UF, yang juga turut mengajar mengaji di pesantren tersebut. Laporan terhadap S masuk ke Polda Jatim dalam berkas terpisah.

Sejak laporan itu dibuat, keberadaan korban tidak lagi diketahui. Korban terakhir kali terlihat pada Rabu, 7 Januari 2026, dini hari.

Juru bicara Pondok Pesantren Nurul Karomah, Muhammad Iwan Sanusi, mengaku pihak pesantren tidak mengetahui keberadaan S maupun korban hingga saat ini. “Kami tidak mengetahui keberadaan yang bersangkutan sampai sekarang,” ujar Iwan, Jumat (23/01/2026).

Meski demikian, ia menegaskan pihak pesantren menyatakan sikap terbuka terhadap proses hukum yang tengah berjalan. “Kami tetap kooperatif dan mendukung sepenuhnya proses hukum. Kami juga ikut melakukan pencarian dan telah berkoordinasi dengan kepolisian di wilayah Kecamatan Galis,” katanya.

Namun, saat ditanya soal dugaan adanya upaya keluarga terduga pelaku untuk melamar korban setelah laporan ke Polda Jatim dibuat, Iwan enggan berkomentar lebih jauh. “Saya tidak bisa memberikan keterangan karena tidak mengetahui secara detail,” ujarnya singkat.

Sementara itu, pihak keluarga korban menduga hilangnya korban bukan peristiwa spontan. Fitriyah, bibi korban, menyebut keponakannya meninggalkan rumah secara diam-diam pada malam hari. “Korban pergi saat semua anggota keluarga sedang tertidur,” ungkap Fitriyah.

Ia mengatakan sejumlah kejanggalan menguatkan dugaan bahwa peristiwa ini telah direncanakan sebelumnya. “Korban tidak membawa ponsel, dan televisi yang ditontonnya masih menyala saat kami menyadari ia menghilang,” ujarnya.

Kecurigaan keluarga semakin bertambah setelah memeriksa rekaman kamera pengawas di sekitar rumah. “CCTV tidak merekam pergerakan korban maupun orang lain pada jam hilangnya korban,” kata Fitriyah.

Bahkan, menurutnya, beberapa hari sebelum korban menghilang, dua santri yang mengaku sebagai utusan S sempat mendatangi korban. “Ada dua santri yang datang menemui korban beberapa hari sebelumnya dan mengaku utusan S,” katanya.

Hingga kini, upaya pencarian korban masih terus dilakukan. Kepolisian mengakui korban belum berhasil ditemukan. “Sampai saat ini korban masih belum ditemukan,” ujar Kasat Reskrim Polres Bangkalan, AKP Hafid Dian Maulidi.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan berbasis agama yang kini menjadi perhatian serius publik. Keluarga korban berharap aparat penegak hukum segera mengungkap keberadaan korban dan menuntaskan proses hukum terhadap seluruh pihak yang terlibat. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com