MAHAKAM ULU – Kondisi Sungai Mahakam di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, kian memprihatinkan seiring surutnya permukaan air akibat musim kemarau. Penyusutan debit air tidak hanya menyulitkan jalur transportasi sungai, tetapi juga memperbesar beban operasional para motoris speedboat yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat pedalaman.

Di tengah tantangan alam tersebut, persoalan lain justru semakin memberatkan, yakni keterbatasan akses terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi serta minimnya infrastruktur pendukung. Kondisi ini dirasakan langsung oleh Henri, motoris speedboat Berkah Doa Ibu yang melayani rute Ujoh Bilang–Tering.
Henri menjelaskan, sektor operasional menjadi beban terberat dalam aktivitas transportasi sungai saat ini. Ia mengungkapkan bahwa konsumsi BBM untuk satu kali perjalanan pulang-pergi pada rute tersebut sangat besar, terutama ketika muatan penumpang dan barang penuh.
“Untuk satu kali PP Ujoh Bilang–Tering, kalau muatan penuh, bisa menghabiskan 320 liter BBM,” ujarnya.
Ironisnya, kebutuhan BBM yang tinggi itu tidak diimbangi dengan dukungan subsidi. Henri menegaskan, para motoris speedboat di Mahakam Ulu selama ini tidak pernah menikmati BBM bersubsidi, baik Pertalite maupun jenis lainnya. Seluruh kebutuhan bahan bakar harus dipenuhi secara mandiri dengan harga non-subsidi.
“Sama sekali tidak pernah dapat subsidi, baik Pertalite atau lainnya. Semuanya mandiri,” katanya.
Selain persoalan BBM, keterbatasan fasilitas dermaga turut menjadi sorotan. Saat ini, speedboat penumpang masih harus berbagi tempat sandar dengan kapal penumpang besar, sehingga kerap menyulitkan proses naik dan turun penumpang.
Henri berharap pemerintah dapat melakukan perluasan dan penataan dermaga agar transportasi sungai dapat berjalan lebih tertib dan aman. “Harapannya pelabuhan ditambah. Jadi posisi speedboat dipisah, tidak menumpuk dengan kapal besar supaya turun-naik penumpang lebih mudah,” jelasnya.[]
Admin05
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan