TARAKAN – Proyek pembangunan Kanal Antarmoda yang direncanakan menghubungkan Bandara Juwata Tarakan dengan jalur transportasi laut dilaporkan mangkrak. Kondisi fisik bangunan yang terbengkalai kini menimbulkan dampak lingkungan berupa abrasi di kawasan pesisir.
Pantauan di Jalan Hasanuddin, RT 18, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kecamatan Tarakan Barat, menunjukkan bangunan siring kanal tampak usang dan tidak terawat. Panjang fisik kanal yang telah dibangun diperkirakan hanya belasan meter. Area tersebut juga ditumbuhi tanaman liar khas pesisir.
Selain itu, terlihat longsoran tanah di sejumlah titik jalan yang berdekatan dengan permukiman warga. Kondisi ini dikhawatirkan semakin membahayakan lingkungan sekitar jika tidak segera ditangani.
Kanal antarmoda tersebut sebelumnya diproyeksikan untuk mengintegrasikan transportasi udara dengan jalur laut atau sungai. Jalur ini direncanakan menghubungkan Tarakan dengan wilayah lain di Kalimantan Utara, seperti Nunukan, Bulungan, Malinau, dan Tana Tidung.
Benetinus, warga Jalan Hasanuddin RT 18, mengaku menjadi saksi awal perencanaan pembangunan kanal tersebut. Menurutnya, proyek itu sempat ditinjau langsung oleh mantan Gubernur Kalimantan Utara, Irianto.
“Saya lihat gambar perencanaannya sangat bagus. Ada taman, jalur joging, dan konsepnya indah. Parkiran bandara disebut akan tembus ke kanal ini,” ujar Benetinus, Jumat (24/01/2026).
Namun, rencana tersebut hingga kini tak kunjung terealisasi. Warga justru harus menghadapi dampak lingkungan akibat pengerjaan awal proyek, seperti penggalian dan pengerukan sungai yang mengubah bentang alam di perbatasan sungai dan tanah warga.
“Dampak dari penggalian itu adalah abrasi. Dulu perbatasan sungai dan tanah tidak seperti sekarang,” keluhnya.
Ia menuturkan, upaya pengamanan tebing sungai melalui pemasangan sheet pile tidak dilakukan secara tuntas. Akibatnya, tanah di pinggir sungai terus tergerus dan mengancam akses jalan warga.
“Ada abrasi, jalan kami jadi semakin sempit,” tegas Benetinus.
Sebagai langkah swadaya, warga sempat menanam pohon api-api atau mangrove di sekitar lokasi untuk menahan abrasi. Namun, upaya tersebut dinilai belum efektif tanpa dukungan penanganan struktural dari pemerintah.
Warga berharap proyek yang telah menyerap anggaran negara tersebut tidak dibiarkan terbengkalai dan setidaknya tidak menimbulkan dampak lingkungan yang lebih buruk.
“Kami ini warga kecil. Kalau bangunannya jadi, kami ikut senang. Tapi kalau mangkrak dan malah merugikan lingkungan, kami yang terdampak,” pungkasnya. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan