KYIV — Dentuman kembali mengguncang Ukraina. Rusia melancarkan serangan udara terbaru yang menghantam ibu kota Kyiv dan kota Kharkiv di timur laut Ukraina, menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai 23 orang lainnya, di tengah status siaga serangan udara nasional.
Menurut laporan kantor berita AFP, Sabtu (24/01/2026), otoritas militer Ukraina menetapkan peringatan serangan udara setelah terdeteksi ancaman drone dan rudal balistik yang mengarah ke sejumlah wilayah strategis, termasuk pusat-pusat permukiman sipil.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi bahwa ibu kota berada dalam kondisi darurat. Ia meminta warga tetap berada di tempat perlindungan karena skala serangan yang dinilainya signifikan. “Serangan musuh sedang berlangsung secara masif. Warga diminta tidak keluar dari tempat perlindungan,” tulis Klitschko melalui Telegram, seraya menyebut sejumlah bangunan nonhunian ikut terdampak.
Dalam pembaruan terpisah, Klitschko menyampaikan adanya korban jiwa dan luka-luka akibat serangan tersebut. “Satu orang dilaporkan meninggal dunia dan empat lainnya mengalami luka. Tiga korban luka telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan,” ujarnya.
Serangan itu juga memicu kebakaran di beberapa titik akibat puing-puing drone yang jatuh. Selain itu, gangguan terjadi pada layanan pemanas dan pasokan air di sejumlah wilayah Kyiv, memperburuk kondisi warga di tengah cuaca musim dingin.
Di wilayah Kyiv yang lebih luas, kepala otoritas militer regional melaporkan empat orang lainnya mengalami luka akibat serangan lanjutan.
Sementara itu, di Kharkiv, Wali Kota Igor Terekhov menyatakan bahwa serangan drone Shahed buatan Iran merusak bangunan-bangunan tempat tinggal yang berada tak jauh dari perbatasan Rusia. “Beberapa area permukiman terkena dampak langsung serangan drone,” kata Terekhov.
Kepolisian setempat menambahkan bahwa serangan drone di wilayah Kharkiv menyebabkan 15 orang terluka dan merusak sedikitnya dua fasilitas medis, sehingga mengganggu layanan kesehatan darurat.
Serangan terbaru ini terjadi hanya sehari setelah pertemuan langsung pertama antara perwakilan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi pada Jumat (23/01/2026), yang membahas rencana mengakhiri perang. Pembicaraan tersebut dijadwalkan berlanjut pada Sabtu (24/01/2026).
Menjelang perundingan lanjutan itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa isu wilayah masih menjadi titik krusial. Ia menyebut Rusia tetap menekan Kyiv agar menarik pasukan dari kawasan Donbas, tuntutan yang hingga kini ditolak Ukraina. []
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan