Kemarau Datang, Diare dan ISPA Mengintai Warga Kotim

KOTAWARINGIN TIMUR — Ancaman penyakit musiman kembali membayangi warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) seiring masuknya musim kemarau. Dinas Kesehatan setempat mencatat peningkatan kasus diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada awal tahun 2026, yang dipicu cuaca kering dan perubahan kondisi lingkungan.

Data Dinkes Kotim menunjukkan, lonjakan mulai terlihat sejak pekan pertama Januari 2026. Penyakit yang berkaitan erat dengan sanitasi, ketersediaan air bersih, serta daya tahan tubuh masyarakat itu kembali menjadi sorotan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, menyatakan pola tersebut hampir selalu berulang setiap kali musim kemarau tiba. “Kalau sudah kemarau, dua penyakit yang paling cepat naik itu diare dan ISPA. Polanya nyaris sama setiap tahun,” kata Nugroho saat ditemui Sabtu (24/01/2026).

Berdasarkan laporan resmi, pada minggu pertama Januari 2026 tercatat 96 kasus diare, meningkat dibanding periode yang sama tahun 2025 yang berada di angka 69 kasus. Memasuki minggu kedua, jumlah kasus relatif stabil tanpa lonjakan signifikan. Secara akumulatif, hingga pekan kedua Januari 2026, total kasus diare mencapai sekitar 229 kasus.

Menurut Nugroho, lonjakan biasanya terjadi di awal bulan dan perlahan menurun setelah memasuki minggu ketiga, sebagaimana tren pada tahun-tahun sebelumnya. “Sebenarnya diare bisa dicegah dan ditangani dengan cepat. Tapi risikonya bisa fatal kalau terlambat. Idealnya, dalam 1×24 jam sudah mendapat penanganan medis,” ujarnya menekankan.

Sementara itu, situasi ISPA menunjukkan tren yang lebih mencolok. Pada minggu pertama Januari 2026, tercatat 323 kasus, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 379 kasus. Namun pada minggu kedua, jumlahnya melonjak tajam menjadi 628 kasus, jauh melampaui angka tahun 2025 yang tercatat 438 kasus.

Dinkes menilai lonjakan ISPA dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari cuaca yang tidak menentu, paparan debu saat kemarau, hingga penurunan daya tahan tubuh. “Pemicunya beragam, bisa karena cuaca, lingkungan, atau kondisi tubuh. Meski meningkat, sejauh ini masih bisa ditangani oleh fasilitas kesehatan,” jelas Nugroho.

Meski kondisi dinilai masih terkendali, Dinkes Kotim mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Warga diimbau menjaga kebersihan lingkungan, memastikan konsumsi air bersih dan matang, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala diare maupun gangguan pernapasan.

Langkah cepat dinilai penting untuk mencegah komplikasi dan menekan angka penularan penyakit selama musim kemarau berlangsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com