SAMARINDA – Di tengah menjamurnya kuliner modern dan makanan cepat saji, usaha kuliner tradisional nasi kuning masih menunjukkan daya tarik tersendiri di Kota Samarinda. Salah satu yang tetap bertahan dan diminati masyarakat adalah Warung Nasi Kuning “Hj Irus” yang berlokasi di Jalan Siti Asiyah, RT 15, Samarinda.
Warung nasi kuning ini dikelola oleh Rusmiati, yang telah menekuni usaha tersebut selama kurang lebih 18 tahun. Konsistensi rasa serta pilihan menu yang beragam membuat warung ini memiliki pelanggan setia dari berbagai kalangan. Meski persaingan usaha kuliner semakin ketat, Rusmiati mengaku tetap optimistis menjalani usahanya.
Rusmiati menjelaskan, warung nasi kuning miliknya menyediakan sejumlah pilihan lauk, mulai dari telur ayam, ayam potong, hingga ikan haruan. Namun, ketersediaan lauk tersebut disesuaikan dengan kondisi harga bahan baku di pasaran. Ketika harga ikan haruan mengalami kenaikan, lauk tersebut terkadang diganti dengan daging sebagai alternatif agar usaha tetap berjalan.
“Sudah sekitar 18 tahun saya berjualan nasi kuning. Lauknya ada telur, ayam potong, ikan haruan, dan kadang diganti daging kalau harga ikan haruan mahal. Kami buka dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas siang,” ujar Rusmiati saat ditemui di warungnya, Minggu (25/01/2026).

Selain variasi lauk, faktor harga juga menjadi perhatian utama dalam menjalankan usaha. Rusmiati mengakui bahwa kenaikan harga bahan pokok memaksanya melakukan penyesuaian harga jual agar tetap seimbang dengan biaya produksi. Penyesuaian tersebut dilakukan secara bertahap agar tidak memberatkan pelanggan.
“Sekarang harga nasi kuning dengan ayam atau ikan haruan menjadi Rp17.000 per porsi, sedangkan yang lauk telur Rp12.000,” jelas Rusmiati.
Di balik keberlangsungan usahanya, Rusmiati menyebut bahwa cita rasa nasi kuning yang ia jual merupakan resep warisan dari sang ibu. Resep tersebut telah dijaga selama bertahun-tahun dan menjadi ciri khas utama warungnya. Saat ini, sang ibu sudah tidak lagi aktif memasak dan sepenuhnya mempercayakan usaha tersebut kepada Rusmiati.
“Resepnya dari ibu saya. Sekarang ibu sudah istirahat dan saya yang melanjutkan usaha ini,” kata perempuan berhijab ini.
Dalam operasional sehari-hari, Rusmiati memasak nasi kuning dalam jumlah cukup besar untuk memenuhi permintaan pelanggan. Tidak hanya melayani pembeli di warung utama, ia juga menitipkan dagangannya ke beberapa warung lain di sejumlah ruas jalan di Kota Samarinda.
“Kalau untuk di warung sini sekitar tujuh kilogram nasi. Tapi karena dititipkan juga ke warung di Jalan Imam Bonjol, Diponegoro, dan Cendana, jadi total saya masak sekitar 12 kilogram nasi kuning setiap hari,” ungkapnya.
Untuk nasi kuning yang dititipkan di warung lain, Rusmiati menerapkan harga yang berbeda. Penyesuaian tersebut dilakukan berdasarkan ukuran lauk yang disajikan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kualitas rasa tetap dijaga agar tidak mengecewakan pelanggan.
“Yang dititipkan harganya Rp10.000 karena ukuran ikannya dan ayamnya lebih kecil. Tapi yang istimewa, kami tetap menggunakan pembungkus dari daun pisang, bukan kertas nasi,” tambahnya.
Penggunaan daun pisang sebagai pembungkus menjadi keunikan tersendiri yang turut mempertahankan cita rasa khas nasi kuning tradisional. Selain memberikan aroma alami, cara tersebut juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pembungkus berbahan kertas atau plastik.
Dengan menjaga konsistensi rasa, mempertahankan resep turun-temurun, serta beradaptasi terhadap perubahan harga bahan baku, Warung Nasi Kuning Hj Irus terus bertahan sebagai salah satu kuliner tradisional yang masih diminati masyarakat Samarinda hingga saat ini. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan