BALANGAN – Peringatan Hari Kusta Sedunia 2026 yang jatuh pada 25 Januari menjadi pengingat bahwa penyakit kusta belum sepenuhnya hilang dari tengah masyarakat. Di Kabupaten Balangan, kusta masih ditemukan di hampir seluruh wilayah kecamatan, meski tren kasus baru menunjukkan penurunan dalam dua tahun terakhir.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan mencatat, jumlah kasus kusta baru pada 2024 mencapai 12 kasus, kemudian turun menjadi 10 kasus pada 2025. Penurunan ini dinilai positif, namun belum cukup untuk membuat pemerintah daerah lengah.
Supervisor Program Kusta Dinas Kesehatan Balangan, Graha Eka Satria, menegaskan bahwa kusta masih menjadi persoalan kesehatan yang harus diwaspadai secara serius. “Kalau dilihat dari angka memang menurun, tetapi kusta masih ditemukan hampir di semua kecamatan. Satu-satunya wilayah yang belum mencatat kasus hanya Kecamatan Tebing Tinggi,” kata Graha, Minggu (25/01/2026).
Ia menyebut, tantangan terbesar dalam pengendalian kusta bukan semata jumlah kasus, melainkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap penyakit tersebut. Banyak warga masih salah kaprah dan menganggap kusta sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan. “Masih banyak yang belum tahu bahwa kusta bisa sembuh total jika ditangani sejak awal. Ini yang terus kami luruskan lewat edukasi,” ujarnya.
Graha menjelaskan, kusta merupakan penyakit menular kronis yang penularannya terjadi melalui droplet batuk atau bersin, terutama pada kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum mendapatkan pengobatan. “Risiko tertinggi ada pada orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi lama. Gejalanya pun tidak langsung muncul, bisa baru terlihat setelah enam sampai tujuh tahun,” jelasnya.
Gejala awal kusta biasanya ditandai dengan bercak pada kulit yang mati rasa, kondisi yang kerap disalahartikan sebagai panu. “Bercaknya mirip, tapi pada kusta ada mati rasa karena saraf sudah terganggu. Kalau ini dibiarkan, dampaknya bisa kecacatan permanen hingga kebutaan,” katanya.
Untuk memastikan penderita mendapatkan penanganan optimal, Dinas Kesehatan Balangan menyediakan pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) secara gratis di seluruh puskesmas. Pengobatan ini harus dijalani secara rutin selama 12 bulan.
Selain pengobatan, upaya pencegahan juga dilakukan melalui skrining aktif di masyarakat dan sekolah, pemberian obat pencegahan (kemoprofilaksis) bagi kontak serumah penderita, serta kampanye masif untuk menghapus stigma negatif terhadap pasien kusta. “Yang perlu dipahami, penderita kusta tidak perlu dijauhi. Mereka justru harus didukung agar mau berobat sampai tuntas,” tegas Graha.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Balangan, Juhriadi, menilai keberhasilan pengendalian kusta tidak bisa hanya bergantung pada layanan kesehatan. “Kesadaran masyarakat untuk mengenali kondisi kesehatannya sendiri sangat menentukan. Ini bukan hanya soal diri sendiri, tapi juga keselamatan orang lain,” ujarnya.
Menurut Juhriadi, peringatan Hari Kusta Sedunia harus menjadi momentum bersama untuk meningkatkan literasi kesehatan. “Dengan pemahaman yang benar, penularan bisa dicegah, stigma bisa dihapus, dan Balangan dapat bergerak menuju daerah yang lebih sehat,” pungkasnya. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan