WASHINGTON – Amerika Serikat kembali mengirim sinyal keras ke kawasan Timur Tengah. Angkatan Udara AS akan menggelar latihan kesiapan militer selama beberapa hari di wilayah tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran yang terus menjadi sorotan internasional.
Latihan militer ini diumumkan Komando Pusat Angkatan Udara AS (AFCENT) melalui pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (25/01/2026) dan dikonfirmasi kembali pada Senin (26/01/2026). Manuver ini disebut bertujuan menguji sekaligus menunjukkan kemampuan pengerahan dan keberlanjutan kekuatan udara AS di kawasan strategis tersebut.
Dalam pernyataannya, AFCENT menegaskan bahwa latihan ini bukan sekadar rutinitas.
“Kegiatan ini dirancang untuk memastikan pasukan udara kami mampu dikerahkan dengan cepat, bertahan dalam operasi berkelanjutan, dan siap merespons setiap potensi ancaman,” demikian disampaikan AFCENT.
Latihan ini digelar saat hubungan Washington–Teheran kembali memanas, menyusul tindakan keras aparat Iran terhadap demonstran antipemerintah di sejumlah kota sejak awal Januari. Aksi penindakan tersebut dilaporkan menewaskan ribuan orang dan menyebabkan puluhan ribu lainnya ditahan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya melontarkan peringatan terbuka kepada Iran. Ia menyebut Washington tidak akan tinggal diam jika kekerasan terhadap warga sipil terus berlanjut.
“Jika pembunuhan terhadap demonstran damai terus terjadi atau eksekusi massal dilakukan, kami akan mempertimbangkan langkah militer,” ujar Trump dalam pernyataan sebelumnya.
Latihan Angkatan Udara AS ini juga berlangsung seiring dengan pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armada pendampingnya ke kawasan Timur Tengah. Trump menyebut pemindahan armada tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif.
“Ini adalah langkah berjaga-jaga. Kami harus siap jika situasi berkembang ke arah yang lebih serius,” kata Trump.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi kehadiran sejumlah jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS di kawasan tersebut.
CENTCOM menegaskan bahwa pengerahan jet tempur ini memiliki pesan strategis.
“Kehadiran F-15E meningkatkan kesiapan operasional dan berkontribusi langsung pada stabilitas serta keamanan regional,” tulis CENTCOM melalui pernyataan di media sosial.
Di sisi lain, dinamika militer di kawasan turut melibatkan sekutu AS. Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan bahwa mereka telah mengerahkan jet tempur Typhoon ke Qatar sejak Kamis (22/01/2026).
“Pengerahan ini bersifat defensif dan ditujukan untuk memperkuat perlindungan kawasan,” ujar pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Inggris.
Rangkaian latihan dan pergerakan militer ini dinilai sebagai sinyal tegas Washington dan sekutunya bahwa stabilitas Timur Tengah menjadi prioritas, sekaligus peringatan terbuka di tengah eskalasi politik dan keamanan regional. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan