MARTAPURA – Gelombang laporan kemunculan ular di kawasan permukiman warga Kabupaten Banjar kian mengkhawatirkan. Dalam satu hari, petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar bahkan harus berjibaku menangani hingga lima kasus ular masuk rumah di lokasi berbeda, Selasa (27/01/2026).
Ular-ular berukuran besar hingga berbisa itu ditemukan di halaman, kandang ternak, hingga sudut rumah warga. Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat, terutama di wilayah padat penduduk.
Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarana Prasarana DPKP Kabupaten Banjar, M Kasyaf R, menyebut sebagian besar ular yang dievakuasi merupakan jenis python atau ular sawah serta ular cobra.
“Jenis yang paling sering kami amankan adalah python dan cobra, dengan ukuran yang sangat beragam. Ada yang kecil, namun ada juga yang panjangnya mendekati tiga meter,” katanya saat dikonfirmasi.
Seluruh laporan yang masuk, lanjut Kasyaf, berasal dari lingkungan permukiman, baik kawasan perdesaan maupun perumahan. Ular-ular tersebut diduga keluar dari habitat aslinya dan menyusup ke area rumah warga untuk mencari tempat aman dan sumber makanan.
Laporan pertama diterima petugas pada pagi hari sekitar pukul 08.16 Wita dari kawasan Jalan Manarap Baru Handil Bakumpai, Komplek Griya Surya Jaya 2, Desa Manarap Baru. Seekor ular python sepanjang kurang lebih satu meter ditemukan terjerat jaring pengaman ternak di samping rumah warga.
Beberapa jam kemudian, laporan serupa kembali masuk dari Jalan Ahmad Yani KCG, Cluster Alamanda, Kelurahan Gambut, sekitar pukul 11.07 Wita. Kali ini, warga dikejutkan dengan kemunculan ular python berukuran besar, sekitar tiga meter, di kandang ternak setelah terdengar suara gaduh dari belakang rumah.
Tak berhenti di situ, hingga siang menjelang malam, petugas kembali mengevakuasi tiga ekor ular cobra dari tiga lokasi berbeda, yakni Jalan Belahan Kelurahan Pesayangan, Jalan Keramat Desa Tungkaran, serta kawasan permukiman Desa Indrasari, Kecamatan Martapura.
“Semua penanganan berjalan aman dan terkendali. Tidak ada warga yang terluka, dan seluruh ular berhasil dievakuasi tanpa insiden,” ujarnya.
Kasyaf menilai maraknya kemunculan ular di kawasan permukiman merupakan dampak langsung dari menyusutnya habitat alami satwa liar akibat alih fungsi lahan. Kawasan rawa, semak, dan hutan yang sebelumnya menjadi tempat hidup ular kini semakin berkurang.
“Perubahan ekosistem membuat ular kehilangan tempat tinggal. Ketika hujan, sarangnya tergenang dan memaksa ular mencari tempat yang lebih kering. Sebaliknya, saat kemarau, ular mendekati permukiman untuk mencari air dan mangsa,” jelasnya.
Keberadaan tikus dan ternak kecil di sekitar rumah warga juga menjadi faktor penarik. Lingkungan yang kurang bersih dinilai berpotensi meningkatkan populasi tikus, yang secara tidak langsung mengundang ular masuk ke kawasan hunian.
DPKP mencatat meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor ke Damkar sebagai layanan penyelamatan turut memengaruhi jumlah laporan yang diterima. Namun demikian, Kasyaf menegaskan lonjakan kasus kemunculan ular tetap erat kaitannya dengan perubahan ekosistem yang terjadi.
Setelah dievakuasi, ular-ular tersebut tidak langsung dilepasliarkan. Petugas terlebih dahulu melakukan karantina sebelum melepasnya kembali ke habitat yang jauh dari permukiman warga.
Selain penanganan di lapangan, petugas juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar tetap waspada, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak mencoba menangani ular secara mandiri demi menghindari risiko gigitan dan bahaya lainnya. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan