Lapangan Berubah Fungsi, Omzet Pedagang Bakso di Bontang Turun

BONTANG – Perubahan fungsi ruang publik berdampak langsung pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hal tersebut dirasakan Wawan Sudarman, pedagang bakso dan mie ayam yang akrab disapa Pak De, yang berjualan di Jalan HM Ardans, Kecamatan Bontang Selatan.

Wawan mengungkapkan, sebelum lapangan bola di kawasan tersebut beralih fungsi menjadi lapangan mini soccer, dirinya biasa berjualan di sekitar area lapangan yang ramai aktivitas warga, khususnya pada sore hari. Namun sejak perubahan itu terjadi, jumlah pembeli yang datang ke lapaknya mengalami penurunan cukup signifikan. “Ya nggak tentu mas, kalau dulu masih di dalam lapangan ini kadang-kadang bisa sampai 100 porsi, kalau di sini paling banyak 60, Mas,” ungkapnya saat ditemui, Rabu (28/01/2026).

Penurunan jumlah penjualan itu berdampak langsung pada omzet harian. Jika sebelumnya Wawan mampu menghabiskan hingga 100 porsi per hari, kini rata-rata penjualannya hanya berkisar 60 porsi. Meski demikian, ia tetap bertahan dan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Wawan telah menekuni usaha kuliner bakso dan mie ayam selama kurang lebih 22 tahun. Usaha tersebut bukan sekadar mata pencaharian tambahan, melainkan sumber penghidupan utama bagi dirinya dan keluarga. “Saya jualan dari tahun 2004, sampai sekarang ini,” ujar Wawan dengan nada santai.

Dalam menjalankan usahanya, Wawan tetap mempertahankan harga yang terjangkau bagi masyarakat. Satu porsi bakso maupun mie ayam ia jual dengan harga Rp15.000, tanpa membedakan menu. Menurutnya, menjaga harga tetap ramah di kantong menjadi salah satu strategi agar pelanggan tetap setia.

Di tengah maraknya inovasi kuliner dan menjamurnya pedagang bakso serta mie ayam di Kota Bontang, Wawan menilai persaingan merupakan hal yang wajar. Ia memilih untuk fokus menjaga kualitas rasa dan pelayanan sebagai kunci bertahan di tengah kompetisi.

Jam operasional lapak Wawan dimulai sejak pukul 10.00 Wita hingga 17.30 Wita. Dalam sehari, penjualan tidak selalu stabil. Terkadang dagangannya habis sebelum waktu tutup, namun tidak jarang pula masih tersisa. “Kita di sini dari jam 10 sampai jam setengah 6, Mas, kadang-kadang habis kadang-kadang enggak,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa tingkat keramaian pembeli dipengaruhi oleh hari dan kondisi lingkungan sekitar. Pada akhir pekan, jumlah pembeli cenderung meningkat seiring aktivitas warga yang lebih padat. “Ramainya pembeli, kalau yang agak lumayan ramai itu Sabtu sama Minggu,” tuturnya.

Selain faktor hari, kondisi cuaca turut memengaruhi jumlah pembeli yang datang ke lapaknya. Menurut Wawan, cuaca kemarau justru membuat penjualan menurun, sementara saat hujan pembeli terkadang lebih ramai. “Kalau cuaca kemarau kayak kemarin ini ya agak berkurang juga, kalau hujan ini agak ramai juga, Mas,” tutup Wawan.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Wawan tetap optimistis dan memilih bertahan. Konsistensi, menurutnya, menjadi kunci utama agar usaha kecil seperti yang ia jalani tetap hidup di tengah perubahan lingkungan dan persaingan usaha. []

Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com