PALANGKA RAYA – Lonjakan temuan kasus HIV di Kalimantan Tengah sepanjang 2025 menjadi sinyal serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Di tengah pembangunan dan pertumbuhan wilayah, persoalan kesehatan ini menunjukkan tren yang belum sepenuhnya terkendali.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, sepanjang 2025 tercatat 487 orang dengan HIV (ODHIV) baru, meningkat dibandingkan 2024 yang berada di angka 419 kasus. Kenaikan ini mempertegas bahwa upaya pencegahan masih menghadapi tantangan besar.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, mengungkapkan bahwa konsentrasi penemuan kasus masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. “Palangka Raya masih menjadi daerah dengan penemuan kasus tertinggi. Angka ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih masif di wilayah dengan mobilitas tinggi,” kata Suyuti saat dikonfirmasi, Sabtu (31/01/2026).
Ia merinci, sepanjang 2025 Palangka Raya mencatat 120 kasus baru, disusul Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 78 kasus dan Kotawaringin Barat 71 kasus. Sementara itu, Kabupaten Pulang Pisau menjadi wilayah dengan penemuan terendah, yakni satu kasus.
Jika ditarik ke belakang, pola sebaran kasus tidak mengalami perubahan signifikan. Pada 2024, Palangka Raya juga berada di posisi teratas dengan 143 kasus, diikuti Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat.
Menurut Suyuti, data tersebut berasal dari sistem pelaporan SIHA Online yang menjadi rujukan resmi pemantauan HIV/AIDS di Kalimantan Tengah.
Selain peningkatan penemuan kasus, Dinkes Kalteng juga mencatat belum seluruh ODHIV baru langsung menjalani terapi. Pada 2025, dari 487 kasus baru, 359 orang tercatat memulai terapi antiretroviral (ARV). “Tidak semua kasus langsung masuk pengobatan. Ini menjadi pekerjaan rumah agar ODHIV segera mendapatkan terapi sejak dini,” ujarnya.
Memasuki awal 2026, pihaknya belum dapat menyimpulkan perkembangan terbaru karena proses pengolahan data masih berlangsung. “Data HIV/AIDS baru bisa dianalisis setelah seluruh laporan masuk dan dikompilasi. Untuk Januari, angkanya belum final,” jelas Suyuti.
Terkait penyebab meningkatnya penemuan kasus, ia menegaskan bahwa perilaku berisiko masih menjadi faktor utama. “Hubungan seksual tidak aman, berganti pasangan, serta rendahnya penggunaan kondom masih mendominasi faktor penularan,” katanya.
Berdasarkan kelompok risiko, temuan kasus HIV pada 2025 paling banyak terjadi pada Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), disusul populasi umum dan pasangan berisiko tinggi.
Untuk memastikan penanganan tetap berjalan, Suyuti menegaskan bahwa seluruh fasilitas layanan kesehatan di Kalimantan Tengah telah mampu melakukan pemeriksaan HIV dan infeksi menular seksual (IMS). “Layanan pemeriksaan sudah tersedia di semua daerah. Selain itu, ada 85 layanan PDP aktif untuk mendukung pengobatan ODHIV,” tuturnya.
Pada 2026, Dinkes Kalteng berencana memperkuat strategi pencegahan melalui edukasi, skrining lebih luas, pemenuhan alat tes, distribusi kondom bagi kelompok berisiko, serta menjamin ketersediaan obat ARV.
“Fokus kami bukan hanya menemukan kasus, tetapi memastikan pengobatan berjalan dan penularan bisa ditekan,” pungkasnya. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan