Bertahan Sejak 1989, Penjual Nasi Goreng Gerobak di Teluk Lerong Tetap Eksis

SAMARINDA — Di tengah pesatnya perkembangan usaha kuliner modern di Kota Samarinda, seorang penjual nasi goreng gerobak bernama Jamal tetap setia menjalani usaha kuliner tradisional yang telah dirintisnya sejak lebih dari tiga dekade lalu. Jamal, yang mangkal di Jalan Siti Asiyah, Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Samarinda, masih mempertahankan usaha nasi gorengnya yang dimulai sejak tahun 1989.

Usaha nasi goreng tersebut telah ia jalani sejak usia belia. Jamal mengungkapkan bahwa dirinya mulai berjualan nasi goreng saat masih berusia sekitar 15 tahun. Kala itu, ia masih berstatus bujang dan memulai usahanya di kawasan Sungai Kunjang. Seiring berjalannya waktu dan perubahan tempat tinggal, ia kemudian memutuskan untuk berpindah lokasi dan menetap berjualan di kawasan Teluk Lerong sejak tahun 2000 hingga sekarang.

“Mulai jualan nasi goreng sejak tahun 1989, waktu itu masih bujang dan usia saya sekitar 15 tahun di kawasan Sungai Kunjang. Untuk di Teluk Lerong, saya mulai berjualan sejak tahun 2000 sampai sekarang,” ujar Jamal kepada media ini, Sabtu (31/01/2026).

Dalam menjalankan usahanya, Jamal menawarkan beragam menu yang cukup lengkap untuk ukuran pedagang gerobak. Menu yang tersedia antara lain nasi goreng biasa, nasi goreng mawut, nasi goreng spesial, mie goreng, serta mie kuah. Keberagaman menu tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membuat pelanggan tetap datang, baik warga sekitar maupun pelanggan lama yang telah mengenalnya sejak bertahun-tahun lalu.

Jamal mengungkapkan bahwa cita rasa nasi goreng yang ia sajikan berasal dari resep keluarga yang diwariskan oleh sang ibu. Resep tersebut telah digunakan sejak awal ia berjualan dan tetap dipertahankan hingga kini.

“Resepnya dari Mama yang sudah jualan nasi goreng lebih dulu. Saya memilih berjualan menggunakan gerobak daripada harus sewa tempat,” kata pria yang memiliki hobi memancing udang sungai ini.

Keputusan untuk berjualan menggunakan gerobak diambil sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai risiko usaha. Menurut Jamal, menyewa tempat justru memiliki potensi masalah ketika usaha mulai ramai dan kemudian tempat tersebut diambil kembali oleh pemiliknya.

“Saya berdagang memilih menggunakan gerobak ketimbang harus sewa tempat karena sering diambil pemilik kalau usaha kelihatan ramai, jadi itu resikonya kita berdagang,” ungkap Jamal.

Dalam sehari, jumlah penjualan yang dihasilkan tidak menentu. Namun, rata-rata Jamal menghabiskan sekitar 8 hingga 10 kilogram beras per hari. Nasi goreng biasa dijual seharga Rp15.000 per porsi, sedangkan nasi goreng spesial dibanderol Rp20.000 per porsi.

“Dalam sehari tidak tentu lakunya kadang bisa 8 kg sampai 10 kg nasi dan harga Rp15.000 per porsi, kalau untuk nasi goreng spesial Rp20.000 per porsi,” tutur Jamal.

Ia mulai berjualan setiap hari sekitar pukul 17.00 WITA dan waktu pulang bergantung pada kondisi dagangan. Terkadang, ia baru menutup lapak hingga pukul 00.00 WITA. Dengan konsistensi rasa dan pengalaman panjang, Jamal dikenal sebagai salah satu penjual nasi goreng legendaris di kawasan Teluk Lerong yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman dan ketatnya persaingan usaha kuliner. []

Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com