GAZA – Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Sabtu (31/01/2026), menewaskan sedikitnya 28 orang dan melukai sejumlah lainnya. Insiden ini menambah panjang daftar korban sipil di wilayah Palestina, meski kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah memasuki tahap lanjutan sejak awal bulan.
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa korban tewas didominasi warga sipil dari kelompok rentan. “Dari total korban yang berhasil dievakuasi, sebagian besar merupakan anak-anak dan perempuan, serta seorang lanjut usia,” ujar otoritas pertahanan sipil Gaza dalam keterangannya.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah saling tuding antara Israel dan Hamas terkait pelanggaran kesepakatan gencatan senjata. Israel menyatakan operasi militernya merupakan respons atas tindakan Hamas, sementara kelompok tersebut membantah telah melanggar perjanjian yang ada.
Menurut laporan tim penyelamat, sejumlah korban masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan. Proses evakuasi terus dilakukan dengan peralatan terbatas di tengah kondisi keamanan yang belum stabil.
Serangan udara juga dilaporkan menghantam kantor kepolisian di distrik Sheikh Radwan, Kota Gaza. Bangunan tersebut mengalami kerusakan parah dan menewaskan sejumlah orang yang berada di dalamnya. “Korban jiwa mencakup aparat kepolisian serta warga sipil yang berada di kompleks itu saat serangan terjadi,” demikian pernyataan Direktorat Kepolisian Gaza.
Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyebut sasaran serangan tidak terbatas pada satu jenis lokasi. “Hunian warga, tenda pengungsian, hingga fasilitas publik ikut terkena dampak, sehingga memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama,” katanya.
Di wilayah Gaza selatan, serangan lain menghantam kawasan Al-Mawasi, daerah yang selama ini menjadi tempat berlindung puluhan ribu pengungsi internal. Kepulan asap tebal terlihat membubung dari area yang dipenuhi tenda-tenda darurat. Hingga kini, jumlah korban dari serangan di kawasan tersebut belum dapat dipastikan.
Rangkaian serangan ini terjadi sehari setelah Israel mengumumkan rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir. Namun, pembukaan itu disebut hanya untuk pergerakan manusia secara terbatas, memicu kekhawatiran bahwa akses bantuan kemanusiaan masih akan terhambat.
Kekerasan yang kembali pecah ini menegaskan rapuhnya gencatan senjata di Gaza. Di tengah ketidakpastian politik dan keamanan, warga sipil kembali menanggung dampak terbesar dari konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan