HULU SUNGAI UTARA – Kasus keracunan massal yang menyerang ratusan warga Desa Baruh Tabing, Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) masih menyisakan tanda tanya besar. Hingga awal pekan ini, kepolisian belum dapat memastikan zat apa yang menyebabkan puluhan orang jatuh sakit usai menyantap hidangan hajatan.
Kunci pengungkapan kasus tersebut kini bergantung pada hasil uji laboratorium. Namun, pemeriksaan itu sendiri belum dimulai.
Kasat Reskrim Polres HSU AKP Teguh Kuatman menyampaikan bahwa barang bukti utama berupa sisa es buah belum diperiksa karena masih menunggu proses administrasi penerimaan di laboratorium forensik. “Pemeriksaan belum berjalan karena sampel belum masuk ke laboratorium. Kami masih menunggu proses penerimaan di Labfor Polda Kalsel,” ujar Teguh, Senin (02/02/2026).
Isu yang beredar di tengah masyarakat mengenai dugaan campuran zat berbahaya, bahkan disebut-sebut menyerupai pupuk yang disangka biji selasih, belum bisa dibenarkan. “Kami tidak bisa menarik kesimpulan apa pun sebelum ada hasil uji ilmiah. Semua harus berdasarkan laboratorium,” tegasnya.
Peristiwa keracunan massal itu terjadi Minggu (01/02/2026), tak lama setelah ratusan tamu menghadiri pesta pernikahan di salah satu rumah warga RT 03 Desa Baruh Tabing. Sekitar 10 menit setelah mengonsumsi es buah, para tamu mulai mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak normal.
Keluhan yang muncul hampir seragam: pusing hebat, kepala berputar, mual, hingga rasa pahit yang menetap di lidah. Es buah yang dikonsumsi diketahui berisi campuran pepaya, labu putih, nanas, biji selasih, dan sirup leci.
Sebagai bagian dari penyelidikan, polisi telah mengamankan satu termos merah berisi sisa es buah. Sampel tersebut rencananya akan diuji di beberapa fasilitas, yakni Laboratorium Forensik Polda Kalsel di Gambut, Laboratorium Tabalong, serta Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Bapelkes) Banjarbaru. “Kami ingin memastikan penyebabnya secara akurat, termasuk menelusuri apakah ada unsur kelalaian atau potensi pidana,” kata Teguh.
Sementara itu, data medis menunjukkan dampak keracunan cukup luas. Sebanyak 128 warga sempat dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dari jumlah tersebut, 120 pasien telah diperbolehkan pulang, sedangkan 8 orang masih menjalani perawatan intensif.
Pasien yang masih dirawat terdiri dari: Ruang Anak (Lantai 2): Nafiya Azahra, M. Fathan Arsya, M. Zaki, dan Hanifa Rusida. Ruang Dewasa (Lantai 1): Norhayah, Lisnawati, Fathul Jannah, dan Aniah.
Polisi memastikan proses penyelidikan akan terus berlanjut hingga penyebab pasti terungkap dan kepastian hukum dapat ditegakkan. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan